Rabu, 02 Juli 2008

EDISI 02 Tahun 2009

KEBIASAAN BURUK
[ Kolose 3:5-10 ]

"...karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui. .." [ Kolose 3:9b-10a ]

Rambut seberat 4,5 kg ditemukan di perut seorang gadis! Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Percaya atau tidak, hal ini terjadi pada seorang gadis berusia 18 tahun di Chicago. Dokter Ronald Levy dan Srinadh Komanduri dari pusat medis Rush University Medical Center di Chicago menemukan gulungan rambut yang hampir memenuhi seluruh bagian perut gadis yang diperiksanya. Gadis ini selalu muntah setiap kali makan, perutnya semakin membesar sementara berat badannya berkurang 18 kg selama
lima bulan terakhir. Tindakan operasi dilakukan untuk mengangkat rambut itu. Selidik punya selidik ternyata gadis ini bertahun-tahun memiliki kebiasaan memakan rambutnya sendiri. Kondisi ini disebut trichophagia. Sungguh, sebuah kebiasaan yang harus ditinggalkan.

Kebiasaan buruk gadis ini telah membawa penderitaan baginya, bagaimana dengan kita? Adakah kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering kita lakukan dan akan berdampak buruk di kemudian hari? Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan, dan Juruselamat, kita dilahirkan sebagai manusia baru. Tetapi sekalipun kita menjadi ciptaan baru, kebiasaan manusia lama kita tidak otomatis hilang dari hidup kita. Meninggalkan kebiasaan manusia lama dan mengganti dengan kebiasaan manusia baru adalah proses dari hari ke hari. Berhasil atau tidaknya tergantung dari pilihan kita. Bila kita berhasil menolak mengikuti kebiasaan buruk manusia dan memilih kebiasaan manusia baru, maka inilah yang dinamakan pertumbuhan rohani. Bila hal ini terus menerus terjadi, maka kita akan semakin dewasa dalam keimanan kita.

Jangan biarkan kebiasaan buruk mengikat kita. Saatnya kita berkata "TIDAK" kepada kebiasaan manusia lama, agar dampaknya tidak semakin memburuk. Percayalah setiap kebiasaan pasti akan berdampak, baik atau buruk tergantung kita!!!

KEBIASAAN BURUK AKAN BERDAMPAK BURUK.
KEBIASAAN BAIK AKAN BERDAMPAK BAIK.

~ Halaman ke-1 ~

Iman Bukan Kebiasaan
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Matius 17:24-27
Tema yang hendak disampaikan dalam Matius 17 adalah tentang IMAN. Iman sejati adalah reaksi yang tepat kepada Kristus sebagai objek iman yang sejati. Banyak penafsir beranggapan bahwa Matius 17:24-27 adalah berbicara mengenai bea Bait Allah. Kalau memang demikian, berarti pembahasan ayat di atas lepas dari tema IMAN yang sedang dibahas pada ayat-ayat sebelumnya.
Matius 17:1-13 membahas tentang bagaimana kita seharusnya beriman yaitu dengan mendengarkan Kristus kemudian taat kepada Dia. Iman sejati mempunyai 2 unsur yaitu reaksi yang tepat dan objek iman yang benar dan tepat yaitu Kristus. Kalau hanya terpenuhi 1 unsur saja maka dapat dikatakan bukan merupakan iman sejati.
Matius 17:14-21 membahas tentang iman bukan dilihat dari besar atau kecilnya iman. Iman dikatakan besar atau kecil hanya dalam hal pertumbuhan iman, yaitu bagaimana kita semakin mengerti iman kita, seharusnya kita semakin taat dan setia kepada Kristus. Masalah yang utama adalah punya iman atau tidak. Kalau punya iman, walau sebiji sesawi pun akan sanggup memindahkan gunung. Kalau kita taat kepada Kristus sebagai objek iman sejati maka kita akan berhasil, bukan karena kita yang hebat tapi karena Kristus sendiri yang bekerja; tapi kalau kita menuruti ambisi diri maka kita akan gagal dan hancur. Kalau Tuhan yang mau, maka jadilah.
Matius 17:22-23 membahas tentang implikasi iman dalam hidup kita. Problem iman yang besar adalah bagaimana kita bereaksi kepada Kristus yang adalah Mesias dan Anak Allah yang hidup. Dalam ayat di atas diceritakan bahwa murid-murid Tuhan Yesus masih belum bisa percaya bahwa salib adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, salib adalah satu-satunya jalan mengatasi problema dosa.
Matius 17:24-27 bukan membahas tentang bea Bait Allah, tetapi membahas tentang di mana letak permasalahannya dan bagaimana caranya supaya kita bisa beriman dengan tepat.
1. Dengan iman yang tepat kita akan bisa menerobos batas (break through)
Dalam Matius 17:24-27 diceritakan bahwa Petrus didatangi pemungut bea Bait Allah. Tidak jelas sejak kapan bea ini menjadi sesuatu yang rutin dan wajib dikerjakan. Semula bea ini merupakan persembahan untuk pendamaian nyawa (Keluaran 38:25-26). Persembahan ini sebenarnya hanya sekali saja dilakukan, tapi dalam perjalanannya menjadi iuran wajib. Hal seperti ini seringkali terjadi di dalam gereja, misalnya persembahan persepuluhan yang semula merupakan komitmen kita untuk mempersembahkan kepada Tuhan 10% dari berkat yang telah kita terima dari Tuhan kemudian dijadikan iuran wajib oleh gereja. Bagaimana seharusnya reaksi yang tepat terhadap hal seperti ini? Bagaimana kita bisa menghidupi reaksi yang tepat kepada Tuhan dalam menghadapi setiap persoalan dalam hidup ini? Kalau kita tidak bisa bereaksi dengan tepat kepada Tuhan maka kita akan bereaksi tidak tepat pula (ngawur) terhadap dunia ini.
Cerita dalam Matius 17:24-27 ini dimulai dengan Tuhan Yesus dan murid-muridNya kembali ke Kapernaum, yaitu markas Tuhan Yesus. Kapernaum adalah kota kecil di dekat Galilea tapi tidak nempel dengan danau. Dugaan beberapa penafsir, Tuhan Yesus menginap di rumah Petrus di Kapernaum, tapi agak sulit diterima kalau Petrus sebagai nelayan tinggal di Kapernaum yang tidak nempel dengan danau, tapi mungkin juga Petrus sudah tidak lagi menjadi nelayan. Petrus menjadi juru bicara Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sudah 3 tahun di Kapernaum, jadi orang-orang di Kapernaum pasti tahu Tuhan Yesus. Konyolnya, pemungut bea tidak bertanya langsung kepada Tuhan Yesus tapi bertanya kepada Petrus.
Ketika Petrus ditanya apakah Gurunya membayar bea, dia menjawab dengan spontan, “Memang membayar.” Jawaban spontan ini keluar karena hal membayar bea dianggap sebagai hal biasa. Di dunia ini banyak orang yang hanya bisa menjadi ekor yang hanya mengikuti orang lain tanpa alasan yang tepat tetapi hanya karena alasan “biasa”. Orang yang “sukses” adalah orang yang bisa menerobos batas. Pembentuk trend adalah orang yang tidak “biasa”, nanti akan ada yang menjadi pengikutnya.
Menerobos batas ada 2 macam yaitu :
1. eksentrik (keluar dari pusat, arus putar ke luar), membentuk orang nyentrik, orang yang tambah gila, misalnya baju yang sebelah kiri warna hijau dan sebelah kanan warna merah.
2. konsentrik (menuju ke pusat yaitu arus putar ke dalam). Orang Kristen seharusnya demikian, kalau dunia putar ke luar, kita putar balik ke dalam. Reformed Theology meneriakkan kembali kepada Alkitab, tambah hari tambah balik ke pusat yang asli yaitu kebenaran sejati. Konsentrik akan menjadikan kita stabil, sedangkan eksentrik akan menjadikan kita labil dan bingung.
2. Dengan iman yang tepat kita akan bisa memberikan jawaban yang tepat.
Dalam Matius 17:25 diceritakan bahwa Tuhan Yesus mendahului bertanya kepada Petrus sebelum Petrus masuk ke rumah. “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Petrus menjawab, “Dari orang asing!” Jawaban ini tidak cocok dengan jawaban Petrus kepada pemungut bea. Berarti Petrus menjawab dengan ngawur, sehingga kepada tiap orang jawabannya lain dan tidak sambung / bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi karena reaksi Petrus kepada Kristus tidak tepat. Respon sejati seharusnya dipikir baiik-baik, sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Kalau kita menjawab karena takut kepada manusia dan ingin menyenangkan manusia maka jawaban kita menjadi ngawur. Basis jawaban kita seharusnya berpusat kepada Kristus yang berdaulat atas kita. Jangan asal jawab ! Iman sejati memberikan kepada kita jawaban sejati.
Iman bukan hanya ada di awang-awang tapi iman itu nyata, yaitu bagaimana kita menghadapi persoalan di dunia ini, bagaimana kita bereaksi dengan tepat kepada Kristus ketika kita menghadapi persoalan di dunia ini. Kalalu iman kita tepat maka jawaban kita juga tepat.
Raja dunia kalau menarik pajak dari siapa? Petrus mengakui Kristus adalah Tuhan, Raja di atas segala raja. Kalau memang demikian, seharusnya Petrus menjawab bahwa Tuhan Yesus tidak perlu bayar bea, Dialah pemilik alam semesta ini, justru seharusnya manusia yang harus bayar kepada Tuhan Yesus. Semua persembahan seharusnya diberikan kepada Tuhan. Kita seringkali tidak menempatkan Kristus sebagai Allah kita. Kalau ada yang tanya tentang Kristus, seharusnya kita jawab bahwa Dia adalah Tuhan, Raja di atas segala raja. Kita seringkali takut menyatakan kebenaran. Konsep tentang Allah adalah pemilik hidup kita seringkali tidak diaplikasikan dalam hidup kita. Iman sejati adalah iman yang menyatakan siapakah Kristus itu. Hampir seluruh kekristenan sudah salah memandang kepada Kristus. Kristus diperlakukan sebagai pembantu, sebagai teman baik. Kristus adalah satu-satunya objek iman yang patut kita pegang. Kalau kita berpegang kepada Kristus kita tidak akan hanyut oleh arus dunia.
Bea Bait Allah sebesar 2 dinar adalah setara dengan gaji 2 hari kerja waktu itu, tidak terlalu besar. Masalah besarnya uang 2 dinar tidaklah penting tapi yang penting adalah harus bayar atau tidak. Respon kita benar atau tidak dalam hal ini. Petrus gagal melihat bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, sehingga orang lain juga hanya bisa melihat Tuhan Yesus sebagai Guru bukan Tuhan. Seberapa jauh kita menjadi pembawa berita kebenaran yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja?
3. Dengan iman yang tepat kita akan melihat perubahan drastis.
Iman bukan sekedar teori tapi terobosan yang dasyat di dalam bijaksana terbesar. Iman Kristen bukan iman duniawi, memakai cara duniawi dengan format duniawi. Itu bukan iman Kristen. Kekristenan asli adalah menerobos dengan iman sejati berdasarkan bijaksana sejati.
Matius 17:27 memperlihatkan bijaksana yang dasyat dari Kristus. Petrus sadar dia sudah salah jawab kepada pemungut bea. Dalam kondisi seperti ini, ada macam-macam pilihan reaksi yang dapat timbul yaitu :
1. Karena sudah berani bicara, maka harus lakukan, dalam hal ini bayar bea. Tetapi hal ini dapat berdampak buruk terhadap status Tuhan Yesus. Dia yang adalah Allah, Raja di atas segala raja masakan dibayarkan oleh anak buah.
2. Mencabut omongan, katakan kalau tidak mau bayar. Hal ini akan memalukan Petrus.
3. Yesus yang bayarkan. Hal ini salah juga, karena Raja di atas segala raja seharusnya tidak perlu bayar.
Situasi ini cukup pelik. Cara penyelesaian yang dilakukan Kristus adalah secara totalitas (keseluruhan), merupakan cara neither nor. Kalau diberi pilihan a atau b, jawabnya adalah z. Jangan mau di dikte. Tuhan kita adalah satu-satunya pemberi solusi terbaik, jawaban terbaik. Waktu Kristus dihadapkan dengan perempuan yang berzinah, Dia ditanya oleh orang banyak, perempuan itu harus dirajam atau tidak. Tuhan Yesus dihadapkan pada 2 pilihan saja yaitu rajam atau tidak. Jawaban Yesus: siapa yang tidak berdosa lempar batu pertama; Tuhan Yesus tidak dikunci oleh pilihan.
Jawaban Tuhan Yesus atas persoalan yang dihadapi Petrus di atas adalah : Petrus harus jalan ke danau, lalu mancing, di dalam mulut ikan pertama yang diperoleh ada uang 4 dirham, pakai uang tersebut untuk bayar bea. Jadi yang bayarkan bea adalah ikan yang dipakai Tuhan. Petrus tidak menjadi malu, Tuhan Yesus sebagai Raja di atas segala raja juga tidak melakukan pembayaran.
Tuhan punya cara dan sistim yang di luar pemikiran kita. Otak kita cuman 300 cc, tidak sanggup memikirkan pemecahan persoalan dunia. Percayakan kepada Kristus, maka Dia yang akan menyelesaikannya. Iman Kristen adalah realistis. Beriman kepada Kristus berarti kita melakukan terobosan. Saat kita terjepit, Tuhan akan menaruh perkataan dalam mulut kita. Allah memelihara kita senantiasa (providensia Allah). Cara kita sendiri tidak akan sanggup menyelesaikan masalah, perlu balik kepada Tuhan sebagai bijaksana tertinggi. Dunia tidak butuh orang pintar tapi butuh orang bijaksana yang setiap kali jalan berdasarkan ketaatan kepada kehendak Tuhan. Mari kita pakai cara Tuhan. Kita harus kembali kepada Tuhan, beriman kepada Tuhan.
Matius 17:27 meminta kita untuk tahu bagaimana menyelesaikan pergumulan hidup, tahu bagaimana bijaksana Tuhan menyelesaikan setiap persoalan, tahu beriman kepada Tuhan. Hal ini akan membawa kita kepada kebahagiaan. Iman Kristen bukan hanya untuk hari ini saja, tapi untuk seluruh perjalanan waktu hidup kita, kita harus jatuh bangun dalam menghidupi iman kita, yang akan membawa kita semakin hari semakin bersandar kepada Tuhan. Itulah pertumbuhan, itulah proses pengudusan (sanctification). Amin

~ Halaman ke-2 ~

HARGA MUJIZAT
Sally baru berumur 8 thn ketika dia mendengar Ayah Dan Ibunya berbicara tentang kakaknya Georgi.

Kakaknya sakit dan mereka telah melakukan semuanya untuk menyelamatkan nyawanya. Hanya pengobatan yang sangat mahal yang dapat menolongnya saat ini tapi itu tidak mungkin karena kesulitan keuangan keluarga tersebut.

Sally mendengar ayahnya berkata, hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya sekarang. Sally masuk ke kamarnya mengambil celengan yang disimpannya, menjatuhkannya ke lantai dan menghitungnya dengan hati-hati. 3x dihitungnya hingga benar-benar yakin tidak salah hitung.

Dia memasukkan uang koin tsb kedalam saku sweaternya dan menyelinap meninggalkan rumahnya menuju kesebuah toko obat. Dengan penuh kesabaran, ditunggunya sang apoteker yang tengah sibuk berbicara dengan seorang pria. Si apoteker tidak melihatnya karena dia begitu kecil. Hal itu membuat Sally bosan dan dia mulai menghentak-hentakkan kakinya ke lantai untuk membuat kebisingan. Si apoteker melongokkan kepalanya tapi juga tidak melihat si kecil Sally.

Akhirnya dia keluar dan menemui Sally. "Apa yang kau mau?" tanya si apoteker dengan keras. "Saya sedang berbicara dengan saudara saya." "Baik, saya ingin berbicara tentang kakak saya," Sally menjawab dengan nada yang sama "Dia sakit, dan saya ingin membeli suatu Mujizat."

"Maaf, apa yang kamu katakan ?," kata si apoteker.

"Ayah saya berkata hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya, nah sekarang berapa harga mujizat itu ?"

"Kami tidak menjual mujizat disini, anak kecil. Saya tidak dapat menolongmu."

"Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya jadi katakan saja berapa harganya" kata Sally dengan suara yang tidak kalah lantangnya.

Seorang pria dengan berpakaian rapi duduk jongkok dihadapannya Dan bertanya ...... "Mujizat jenis apa yang dibutuhkan saudaramu?"

"Saya tidak tahu," jawab Sally. Air mata mulai mengalir dipipinya "Yang saya tahu, dia benar-benar sakit dan Ibu mengatakan kalau dia harus dioperasi. Tapi keluarga saya tidak dapat membayarnya. ......jadi saya mengambil tabungan saya.

"Berapa banyak yang kau punya?" tanya pria itu. "Satu dollar 11 sen," jawabnya dengan bangga. "Dan inilah semua uang yang saya punyai didunia ini."

"Sesuatu yang diluar logika," Senyum pria tadi Satu Dollar 11 sen...harga yang tepat untuk mujizat yang menyelamatkan kakaknya. Dia mengambil uang itu dan dengan tangan yang satunya membimbing tangan anak kecil itu sambil berkata : "Bawa aku ketempat kamu tinggal, aku ingin bertemu dengan kakak dan orangtuamu".

Pria berpakaian rapi itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang spesialis bedah. Dia membantu menyembuhkan kakak Sally. Operasi berjalan sempurna tanpa bayaran dan tidak berlangsung lama sampai akhirnya Georgi kecil pulang ke rumah dan sembuh total, Ayah dan Ibunya sangat bahagia untuk peristiwa ini.

"Operasi itu......sebuah keajaiban.....Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan dan kami tidak membayarnya sedikitpun.. .." kata sang Ibu.

Sally tersenyum sendiri..... .Dia tahu persis berapa harga mujizat untuk kesembuhan kakaknya.... Satu Dollar 11 sen dan tentu saja ditambah dengan IMAN dari si kecil Sally, seperti firman Tuhan yang berkata " jika engkau mempunyai iman sebesar biji sesawi maka engkau dapat berkata kepada gunung itu untuk beranjak dari tempatnya".

"And we know that all things work together for good to them that love God, to them who are the called according to His purpose" [ Roman 8:28 ]

~ Halaman ke-3 ~

TIDAK MENGENAL KATA TERLAMBAT
Lima
belas tahun yang lalu, Morjorie Newlin yang ketika itu berusia 72 sedang berbelanja di supermarket. Karena ada obral, dia membeli sekitar 25 kilo makanan kucing untuk peliharaannya. Sebagai janda yang berusaha untuk hidup mandiri, dia merasa kesal karena kepayahan mengangkat belanjaannya dan dia memutuskan untuk ikut bergabung di klub fitness di dekat rumahnya di Mt Airy, Philadelphia USA .

Richard Brown, pelatih di tempat fitness Rivers Gym sempat geli melihat nenek yang sudah punya 4 cucu dan 2 cicit ini mulai mengikuti latihan. Namun nenek tua ini rajin berlatih hari demi hari, minggu demi minggu sampai setahun kemudian berhasil mengangkat beban sekitar 50 kilo dan tubuhnya memiliki bentuk seperti layaknya orang yang berlatih bodybuilding.

Mulai berprestasi di usia yang sudah lanjut.

Karena dapat dorongan dari si pelatih fitness, akhirnya nenek Morjorie bersedia ikut lomba body building Amateur Athletic Union yang terbuka untuk umum. Sebagai seorang Katholik sebetulnya dia merasa risih karena harus memakai bikini selayaknya atlit binaragawan ketika sedang berlomba. Namun singkat cerita dia ikut di lomba itu dan berhasil menjadi juara untuk kategori diatas 45 tahun. Penonton histeris ketika diumumkan bahwa pemenangnya sudah berusia 74 tahun.

Itulah awalnya sampai Morjorie kemudian mengikuti banyak perlombaan yang membawanya sampai ke Itali, Jerman, dan Perancis. Sampai tahun lalu dia telah mengoleksi 40 piala dan banyak piagam-piagam penghargaan yang mengisi satu kamar penuh di rumahnya. Prestasi yang memberi inspirasi ini bahkan telah membawa dia muncul di acara TV Oprah Winfrey Show, Today's Show dan juga membawa Morjorie menjadi pembicara moitivasi di seminar-seminar.

Morjorie yang seorang pensiunan perawat ini telah menunjukkan bahwa ketekunan menghasilkan prestasi. Lebih dari itu dia telah memberi contoh bahwa umur bukanlah penghalang untuk berprestasi.

Tidak menyerah sekalipun mengidap penyakit yang berat.


Tahun lalu nenek Morjorie tidak lagi ikut pertandingan namun tetap berlatih 3 kali seminggu sampai pertengahan tahun lalu ketika dia merayakan ulang tahunnya yang ke-87 di Bally Total Fitness, Cedarbrook. Morjorie yang sebetulnya mengidap penyakit Leukumia ini, berhenti berlatih di bulan Oktober lalu ketika penyakitnya sudah semakin parah.

Saya tertarik tentang kisah hidup nenek Morjorie dan ingin menuliskannya dalam sebuah artikel. Hari ini ketika saya ingin mengupdate tentang Nenek Morjorie, saya terkejut mengetahui bahwa akhir minggu yang lalu, nenek Morjorie telah wafat. Memang Nenek Morjorie telah tiada, namun wanita sederhana ini telah memberi inspirasi kepada banyak orang dengan apa yang diperbuatnya di usianya yang lanjut.

Mendengar tentang Nenek Morjorie mengingatkan kita tentang Kaleb (Yos
14:10). Di usianya yang ke-80, dia meng-klaim janji Tuhan melalui Musa mengenai tanah perjanjian yang menjadi bagiannya. Dan bersama kaumnya dia menaklukkan raksasa-raksasa yang berkuasa di Hebron dan menjadikan Hebron tanah warisannya.

Tidak menyerah sebelum mencapai garis akhir.

Banyak dianatara kita mungkin putus asa dengan kegagalan yang kita alami setelah berkarir selama 20 tahun atau 30 tahun mungkin. Tapi kesaksian Yosua dan nenek Morjorie di atas memberi inspirasi bahwa sebelum kita menghadap Tuhan Yesus, masih ada kesempatan bagi kita untuk melakukan seusatu yang berarti dengan hidup kita.

Seperti kata Rasul Paulus, .. aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (Fil 3:13b)

lalu mengarahkan diri untuk mengejar suatu prestasi dalam hidup ini, ... dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Fil 4:14)


Tidak pernah menyerah. Terus berprestasi. Berlari sampai garis Finish.

~ Halaman ke-4 ~

"NOT ME, BOSS"
Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua New Guinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.

Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.

Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!

Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut "Not me, Boss! Selama ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!"

Moral kisah :
Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?
Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?
Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu.

~ Halaman ke-5 ~
TIDAK BERPIKIR NEGATIF
Suatu ketika ada seorang pemabuk terkapar di pinggir jalan. Ia tidak menyangka bahwa di tempat di mana ia berbaring ada segumpal kotoran ayam tergeletak di situ. Kotoran itu secara otomatis teroles di ujung hidungnya. Ketika merasa kuat, si pemabuk itu bangun melanjutkan perjalanan. Setibanya di rumah, sang isteri menyajikan hidangan makan malam baginya. Apa yang terjadi? Hidangan makan malam itu batal disantapnya karena semua menu yang ada beraroma kotoran ayam. Sontak saja si pemabuk itu marah-marah. Sang isteri menjadi korban beragam jurus tendangan dan kepalan tinjunya. Cek dan recheck, ternyata asal muasal aroma itu terletak di ujung hidung si pemabuk itu.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, si pemabuk kisah tadi begitu cepat menghakimi isterinya. Ia telah menganggap isterinya bersalah padahal letak kesalahan itu ada pada dirinya sendiri. Sayangnya, ia tidak sempat melihat kesalahan atau kekeliruan pada dirinya tetapi justru pada diri orang lain. Pengalaman yang sama seringkali tak luput dari praktek hidup kita sehari-hari. Acap kali kita begitu cepat menghakimi orang lain, menuding orang lain, melihat keburukan atau kekurangan orang lain, berpikir negatif tentang orang lain tanpa mengoreksi diri kita sendiri. Kita cenderung menganggap diri kita lebih benar daripada orang lain. Corak hidup semacam inilah yang ditentang Yesus dalam perkataan-Nya, "Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau lihat?" [Matius 7:3]. Yesus menghendaki agar balok dari mata kita sendiri dikeluarkan terlebih dahulu, maka kita akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbat di mata saudara kita [Matius 7:5]. Artinya, kita tak boleh mempunyai prasangka buruk atau pikiran negatif tentang orang lain, tidak cepat menghakimi orang lain tanpa mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu. Sebaiknya kitalah yang terlebih dahulu menata diri kita dengan baik.

~ Halaman ke-6 ~

TIPS MEMBUAT SURAT LAMARAN PEKERJAAN

Sudah ribuan lamaran kerja dikirim tapi belum ada balasan? Mungkin salah
satu tips dibawah ini adalah masalahnya..
1. JANGAN TERLALU BANYAK MENGGUNAKAN SINGKATAN
Dgn Hrmt.
ttrk dgn ikl lwg krj yg dmt pd srt kbr edisi sls , sy brmskd mengisi lwg yg
bpk bthkn,
rdri thn 1999 - 2004 , sy tlh bkj di aptk km farma , di bag cln srv.
dri thn 2004-2005 , sy bkj di LC bank sbg kabag keu.
dri thn 2005- smp skrg jd tkg pkr di BIp

2. JANGAN TERLALU BANYAK LAMPIRAN
sebagai bahan pertimbangan bapak , bersama ini saya sertakan :
a. foto copy KTP bapak saya
b. pas foto saya waktu disunat
c. surat kelakuan baik seluruh keluarga saya
d. bon hutang selama 1 tahun
e. proposal permintaan sumbangan pembangunan mesjid di Rt saya

3. BAHASANYA SOK GAUL
Dgn hromat banget , boss!!!!
halo boss , capee deeehhh!!!! apa kabar nich.....? baik baik aja dong , iya kan iya dong , bener kan bener dong....? saya mo ngelamar kerja nich..boleh dong...please. ..boleh ya...?

4. BAHASANYA SOK PREMAN.
gue pernah kerja di kantor bokap, tapi lantaran gue sering bolos sama sering ngegodain skertaris kantor, gue dikeluarin, setan banget deehhh!!!! makanya sekarang gue ngelamar kerja di kantor elo , ga usah khawatir soal
jabatan deh.....gue sih yg penting dibayar gede sama elo. ok deh!! gue tunggu panggilan kerja! dari elo di rumah gue , kalo sampe tiga hari belom juga ada panggilan , elo bakal tau sendiri akibatnya... .!!!!!!!

5. BAHASANYA SOK AKRAB.
Dengan hormat ,
hai apa kabar nih...? baik baik aja kan ...? saya juga ketika menulis surat ini dalam keadaan sehat wal afiat, semoga kamu juga baik baik aja seperti saya disini. ngomong ngomong gimana kabar anak anak , sehat kan ..? istri pasti makin cantik aja.....salam aja ya buat mereka. oya ..hampir lupa, saya bermaksud melamar pekerjaan pada perusahaan kamu bisa kan?

6. TERLALU RESMI DAN BERTELE TELE.
Dengan segala hormat,
Setelah saya membaca iklan lowongan pekerjaan di surat kabar ternama di ibukota yang oplagnya 3 juta exemplar per harinya , saya sangat tertarik sekali dengan iklan yang anda muat di halaman 16 kolom 6 seperti pada lampiran surat lamaran saya ini. oleh karena itu saya bermaksud untuk melamar pekerjaan tersebut dan juga sekalian harapan saya , dengan surat lamaran ini kita bisa mempererat tali perkenalan antara kita berdua.

~ Halaman ke-7 ~

EDISI 12 Tahun 2008

YESUS TERANG DUNIA
Perhatikanlah suara-Ku, hai bangsa-bangsa, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai suku-suku bangsa! Sebab pengajaran akan keluar dari pada-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa (Yesaya 51:4).

Umat Allah memahami bahwa terang itu berasal dari Allah, pada waktu penciptaan alam semesta, matahari tidak diciptakan pada hari pertama. Namun Alkitab berbicara jelas bahwa terang itu diciptakan Allah, bukan Matahari yang menciptakan terang.

* Kejadian 1:3-5
1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Matahari dan benda-benda penerang justru diciptakan pada hari yang keempat. Menunjukkan bahwa Allah-lah sumber/ origin dari terang itu. Dalam pembukaan Injil Yohanes, telah disampaikan bahwa hakekat Yesus Kristus adalah Allah, Dia adalah Sang Firman, Dia adalah Sang Pencipta, didalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia :

* Yohanes 1:1-5
1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadidari segala yang telah dijadikan.
1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Yesus Kristus adalah Allah yang inkarnasi ke dunia, dalam pelayananNya di dunia, Ia menyatakan diriNya dengan kalimat Ilahi, sbb :

* Yohanes 8:12
LAI TB, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."

KJV, Then spake Jesus again unto them, saying, I am the light of the world: he that followeth me shall not walk in darkness, but shall have the light of life.

TR, παλιν ουν ο ιησους αυτοις ελαλησεν λεγων εγω ειμι το φως του κοσμου ο ακολουθων εμοι ου μη περιπατησει εν τη σκοτια αλλ εξει το φως της ζωης
Translit interlinear, palin {pula} oun {lalu} ho iêsous {Yesus} hautois {kepada mereka}elalêsen {mengatakan} legôn {berkata} egô eimi {Akulah} to phôs {Terang} tou kosmou {(manusia di) dunia} ho {orang yang} akolouthôn {mengikuti} emoi {Aku} ou mê {pasti tidak} peripatêsei {akan berjalan} en {di dalam} tê skotia {kegelapan} all {melainkan} exei {ia akan mempunyai} to phôs {terang} tês zôês {yang memberi hidup (kekal)}

Catatan :
Kata Yunani φως - phôs yang diterjemahkan dengan "terang/ light", berasal dari kata kerja φαινω – phainô, "menyinarkan" dan senantiasa berhubungan dengan berkas-berkas cahaya. Kata "Dunia" menerjemahkan kata Yunani κοσμος – kosmos yaitu umat manusia di dunia.

Yesus menyatakan dirinya dengan kalimat Ilahi "Akulah (Yunani, "εγω ειμι - egô eimi", Ibrani, אֲנִי־הוּא - ANI HU) Terang Dunia". Ayat ini paralel dengan Yohanes 1:4-5 yang menulis "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya".

Hari Raya Tabernakel di Yerusalem :
Beberapa penafsir berpendapat bahwa, perkataan Tuhan Yesus ini disampaikan pada waktu hari raya Tabernakel (tahun ini menurut kalender Yahudi jatuh pada 26 September – 3 Oktober 2007). Perayaan itu merupakan sebuah perayaan sebagai penghormatan terhadap Allah yang hidup, yang telah memimpin umat Israel dalam pengembaraan mereka di padang gurun selama 40 tahun. Dan mereka tinggal di dalam pondok-pondok, hal itu dilakukan seperti ketika mereka hidup pada masa pengembaraan di Semenanjung Sinai. Hari raya ini juga disebut hari raya "Pondok Daun" karena orang-orang Yahudi pada zaman itu mendirikan kemah-kemah dari daun-daun di pelataran Bait Allah/ Bait Suci di Yerusalem, untuk memperingati pengembaraan mereka dari tanah Mesir ke tanah Perjanjian. Hari Raya ini dilangsungkan dalam musim gugur, pada waktu panen atau panen anggur, dan yang bertujuan bersyukur kepada Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya sebuah keranjang penuh buah-buahan. Pemberian nama "Pondok Daun" juga untuk mengenang pondok-pondok dari dedaunan yang menjadi tempat tinggal para pekerja selama pekerjaan panenan, serta pondok-pondok yang didirikan di Yerusalem selama tujuh hari pesta, lalu ditutup dengan hari ke delapan sebagai hari tambahan.

Dan, menurut tradisi Yahudi, pada waktu malam dimana matahari tidak bersinar, orang-orang yang sedang melaksanakan hari raya Tabernakel itu menyalakan dua lampu emas di sisi dari altar korban bakaran. Dan cahaya lampu itu menebarkan sinarnya di atas halaman Bait Suci. Itu adalah sebuah peringatan terhadap pemeliharaan Allah, yang telah memimpin umatNya dengan tiang api pada waktu malam dan tiang awan pada waktu siang. Jadi, Tuhan Yesus berdiri di halaman Bait Suci dan melihat lampu emas itu dan menyampaikan perkataan Ilahi ini: "Akulah terang dunia" (Yunani, "εγω ειμι το φως του κοσμου - egô eimi to phôs tou kosmou").

Hari raya ini dalam Alkitab bahasa asli Ibrani, adalah KHAG HASUKOT :

* Imamat 23:34
LAI TB, Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya.

KJV, Speak unto the children of Israel, saying, The fifteenth day of this seventh month shall be the feast of tabernacles for seven days unto the LORD. Jewish Publication Society Tanakh, Speak unto the children of Israel, saying: On the fifteenth day of this seventh month is the feast of tabernacles for seven days unto the LORD.

Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew with vowels,
דַּבֵּר אֶל־בְּנֵי יִשְׂרָאֵל לֵאמֹר בַּחֲמִשָּׁה עָשָׂר יֹום לַחֹדֶשׁ הַשְּׁבִיעִי הַזֶּה חַג הַסֻּכֹּות שִׁבְעַת יָמִים לַיהֹוָה׃

Translit, DABER 'EL-BENEI YISRA'EL LE'MOR BAKHAMISYAH 'ASAR YOM LAKHODESY HASYEVI'I HAZEH KHAG HASUKOT SYIV'AT YAMIM LAYEHOVAH (baca ADONAY)

Catatan :
Kata Ibrani " חג - KHAG (hari raya/ perayaan/ festival) paralel dengan kata Arab "Hajj (الحجّ)", haji. Hal ini dapat dibaca dalam AlKitab al-Muqaddas (Alkitab berbahasa Arab).

Misalnya istilah Ibrani syir ha-ma'a lot (nyanyian orang-orang yang naik ke kota suci Yerusalem untuk ber-KHAG (berhari-raya) diterjemahkan dalam bahasa Arab Nasid al-Hujaj (nyanyian orang-orang yang ber-hajji). Lihat Mazmur 120-146, Alkitab Al-Muqaddas ay Kitab al-'Ahd al-Quran wa al-'Ahd al-jadid (Beirut: Dar al-Kitab Al-Muqaddas fii al-Syariq al-Ausath, 1996, dalam Bambang Noorsena, Yesus Terang Dunia).

Hari Raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem :
Ada juga beberapa penafsir yang berpendapat bahwa, Tuhan Yesus Kristus ketika berbicara tentang hal itu adalah pada masa menjelang hari raya Hanukkah (Ibrani, חנוכה dibaca : Chanukah/ Khanukah/ Hanukah) atau hari raya Pentahbisan Bait Allah (disebut juga "Perayaan Cahaya", Yohanes 10:22). Hanukkah disebut juga "hari raya Lampu". Hal itu merupakan peringatan terhadap pembersihan Bait Suci, ketika Yudas Makkabeus dan para pengikutnya menang dalam membebaskan kota itu dari penjajahan Siria. Dan di dalam pentahbisan kembali dan meresmikan Bait Suci, mereka memiliki minyak suci hanya untuk persedian satu hari. Tetapi di dalam kemurahan Allah, demikian yang disampaikan dalam kitab Deuterokanonika 2 Makabe, minyak yang tersisa itu, yang untuk persediaan satu hari itu, bertahan hingga delapan hari (2 Makabe 10:6). Jadi di dalam hari raya Lampu, atau hari raya Peresmian (Hanukkah), lampu menyala selama delapan hari. Dan kemudian di dalam merayakan hari raya Hanukkah, mereka menyalakan satu lilin setiap hari hingga hari kedelapan. Kemudian Tuhan Yesus berdasarkan latar belakang kehidupan orang-orang, berbicara tentang diriNya sendiri sebagai "terang dunia" .

Yesus Kristus Terang Dunia, terang dari hidup! Dia adalah terang dari segala pengertian dan pengetahuan. Dia mengajarkan kepada kita bahwa Bapa sorgawi menciptakan kita dengan tanganNya yang mahakuasa. Dia mengajarkan kita bahwa tujuan utama dari hidup adalah untuk menyembah dan melayani Dia. Dan Dia membukakan bagi kita pengharapan tentang langit yang baru dan bumi yang baru dibalik kematian. Injil Yohanes juga dengan jelas menulis bahwa :

* Yohanes 3:16
LAI TB, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

KJV, For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.

TR, ουτως γαρ ηγαπησεν ο θεος τον κοσμον ωστε τον υιον αυτου τον μονογενη εδωκεν ινα πας ο πιστευων εις αυτον μη αποληται αλλ εχη ζωην αιωνιον
Translit Interlinear, houtôs {demikian} gar {karena} êgapêsen {mengasihi} ho theos {Allah} ton kosmon {(manusia di) dunia} hôste {sehingga} ton huion{anak} autou ton monogenê {yang tunggal/ yang unik} edôken {Ia telah memberikan} hina {supaya} pas {setiap (orang yang)} ho pisteuôn {percaya} eis {kepada} auton {Dia} mê {tidak} apolêtai {menjadi binasa} all {melainkan} ekhê {beroleh} zôên {hidup} aiônion {kekal}

Yesus terang dunia, terang dari keabadian! Tidak ada hal yang lebih mendasar dari pada kerinduan yang terdapat dalam kehidupan manusia dari kepada kehidupan sesudah kematian. Sejauh keberadaan manusia, sejauh itu pula kerinduan yang terdapat untuk kekekalan. Diperjelas dalam 2 Timotius 1:10: "Kristus Yesus telah membawa hidup yang kekal dan kekekalan ke dalam terang" :

* 2 Timotius 1:10
LAI TB, dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

KJV, But is now made manifest by the appearing of our Saviour Jesus Christ, who hath abolished death, and hath brought life and immortality to light through the gospel:

TR, φανερωθεισαν δε νυν δια της επιφανειας του σωτηρος ημων ιησου χριστου καταργησαντος μεν τον θανατον φωτισαντος δε ζωην και αφθαρσιαν δια του ευαγγελιου
Translit interlinear, phanerôtheisan {telah dinyatakan} de {tetapi} nun {sekarang} dia {melalui} tês epiphaneias {penampakan} tou sôtêros {Juruselamat} hêmôn {kita} iêsou {Yesus} khristou {Kristus} katargêsantos {meniadakan} men {di satu pihak} ton thanaton {maut} phôtisantos {menyatakan (dalam terang)/ menerangkan} de {di pihak lain} zôên {hidup} kai {dan} aphtharsian {yang tidak dapat binasa} dia {melalui} tou {itu} euaggeliou {Injil}

Yesus Kristus adalah Terang Dunia, dan murid-murid Kristus akan memancarkan terangNya itu kepada dunia (Yesaya 60:1). Pengharapan Yahudi pada umumnya, kuasa atas kaum גוים - GOYIM (bangsa-bangsa asing) memang baru dinyatakan pada zaman Mesias (Yesaya 42:6). Dalam Khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajar murid-murid Tuhan harus menjadi "terang dan garam" bagi dunia :

* Matius 5:13-16
5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 LAI TB, Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

KJV, Ye are the light of the world. A city that is set on an hill cannot be hid.

TR, υμεις εστε το φως του κοσμου ου δυναται πολις κρυβηναι επανω ορους κειμενη
Translit interlinear, humeis {kalian} este {adalah} to phôs {terang} tou kosmou {dunia}ou {tidak} dunatai {ia dapat} polis {polis} krubênai {untuk disembunyikan} epanô {diatas} orous {gunung} keimenê {terletak}

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Padanan kata φως - phôs (terang) dalam istilah bahasa Indonesia lainnya adalah "nurani" yaitu kata serapan dari bahasa Arab yang bermakna terang, ada cahayanya. Sebagai murid Kristus kita harus memancarkan terang Kristus. Perbuatan dan tingkah laku kita senantiasa berjalan dengan hati-nurani yang dipimpin oleh Roh Kudus. Dan melalui Matius 5:13-16 nyatalah bahwa yang dimaksud Tuhan Yesus ialah kehidupan murid-murid Tuhan dalam masyarakat. Mereka harus dipandang oleh orang lain sebagai teladan hidup dari Kuasa dan Kasih karunia Allah, teladan yang menggairahkan orang lain untuk mengikuti jejak 'terang' kita dan dimanapun kita berada, kita juga akan senantiasa memberi rasa (fungsi garam) dimanapun kita berada.

Kita sekarang telah masuk ke bulan Desember, dimana secara tradisi akan kita peringati kelahiran Kristus, Allah yang inkarnasi ke dunia. Tradisi perayaan Natal kita ini,disamping merupakan tradisi yang diserap dari kebudayaan Romawi juga diserap dari tradisi hari raya Hanukkah. Kalangan Yahudi Kristen merayakan Natal sekaligus Hanukkah dengan sebutan "Chrismukkah", bahkan perayaan 'Yahudi campur Kristen' ini sudah dikenal di Jerman sejak tahun 1800an Masehi, disana dikenal dengan istilah "Weihnukkah". Maka Tradisi memasang pohon terang pada saat-saat natal yang memasang lampu-lampu, lilin dan menghias pohon terang ini bermula dari "hari raya Lampu" (Hanukkah) yang pada tahun ini menurut kalender Yahudi jatuh pada 4-12 Desember 2007. Meski Natal hanyalah merupakan suatu tradisi, namun peringatan Kelahiran dan Terang Kristus ini baik-baik saja kita lakukan, adanya saudara-saudara kita yang mendekorasi rumah dan gereja-gereja didandani dengan gemerlap lampu-lampu natal, baiklah itu kita pandang sebagai simbol akan terangNya yang kekal, dan penghayatan akan kasihNya yang sungguh besar kepada umat manusia di dunia sehingga Allah yang Mahamulia itu sudi datang ke dunia untuk misi keselamatan, sehingga Anda dan saya dapat diselamatkan oleh karyaNya yang agung di kayu salib. Amin! - Bagus Pramono

Happy Christmas
Happy Chrismukkah

~ Halaman ke-1 ~

SAYA TERSELAMATKAN WALAUPUN LAHIR TANPA BOLA MATA
Jhon Natanael lahir tanpa bola mata. Saat ia di dalam kandungan, ibunya putus asa dengan keberadaan ayahnya, lalu mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Ini berimbas di masa kecilnya. Ia melewati semuanya dengan luka yang teramat dalam. Kesepian menjadi nyanyian pilu yang disimpannya sendiri. Bertahun-tahun, ia mengalami frustrasi dan terus bertanya. Mengapa ia dilahirkan buta? Namun, semua kesesakan itu dihempasnya di kaki salib Yesus. Kini, Jhon bisa berkata, "Hidup saya amat berarti."

Lahir Tanpa Bola Mata
Saat mengandung Jhon empat bulan, ibunya terguncang karena ayah Jhon punya kebiasaan judi yang tak kunjung berhenti. Puncak stres itu ketika ayah Jhon berurusan dengan polisi dan masuk penjara. Dalam keputusasaan, dia mencoba bunuh diri dengan menenggak minuman yang mematikan, semacam garam pekat. Namun, Tuhan berkehendak lain, keduanya selamat. "Mama saya terselamatkan. Saya yang di dalam kandungan pun tetap hidup meskipun lahir dengan keadaan mata seperti ini, tanpa bola mata," kisah anak bungsu dari empat bersaudara itu.

Jhon yang terlahir dengan nama Laij Tji The seolah menampung duka lara dan kemarahan ibunya. "Umur delapan bulan, saya dibawa Mama ke Jakarta untuk periksa mata. Tapi dokter mengatakan saya tak mungkin bisa melihat, sekali pun dicangkokkan melalui donor. Tidak ada harapan karena saraf mata sudah mati. Lebih menyakitkan, dokter bilang pada mama bahwa hidup saya sudah tidak berguna dan belum terlambat untuk membunuhnya," cerita Jhon yang mengetahui semua kisah itu dari ibunya.

Jhon "hidup" dalam gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa. Jhon kecil sendirian. Ia menyendiri di kamar, duduk terpekur. Belajar berjalan dan berulang kali jatuh, tak jarang kepalanya terbentur. Tangannya adalah juga mata yang melihat dengan meraba. "Saya tahu, saya cacat karena Mama. Sering kali kalau saya dianggap nakal, Mama kerap mengeluarkan kata-kata penyesalan telah melahirkan saya. Bahkan, beberapa kali Mama mengancam dengan kata-kata, 'Saya akan bunuh kamu!'"

Bila ada tamu, Jhon kecil diboyong ke kamar. "Mereka malu karena memiliki anggota keluarga yang cacat. Saya dijauhkan dari hubungan luar. Menjadi kebiasaan ketika saya mulai tumbuh besar, langsung cepat-cepat masuk kamar bila ada ketukan pintu atau terdengar suara orang datang. Saya hanya mengenal rumah dan orang-orang seisi rumah," ungkapnya lirih.

Sewaktu umur sepuluh tahun, Jhon pernah mencoba bunuh diri. Setengah tak sadar, Jhon mengikat leher dengan karet sampai sulit bernapas. Sikap berontak pada orang tua dan situasi yang membosankan itu membuat Jhon gampang tersinggung. Namun, sakit hati itu cuma bisa dirasakannya dalam hati.

Jhon tak bisa lagi menghindar ketika guru-guru les ketiga kakaknya selalu datang ke rumah memberi pelajaran. "Mereka sering datang, jadi mau nggak mau saya kenal mereka. Di antara mereka, ada yang sangat memerhatikan saya, mengajak saya ngobrol, suka ngasih permen dan ngajak saya nyanyi. Dari sinilah, saya mulai berani bicara dengan orang di luar keluarga."

Ketika Jhon pindah rumah, ia mulai berani ngajak ngobrol orang yang ditemui. Suatu kali, ada yang membawanya ke persekutuan. Namun, entahlah, Jhon cepat bosan. Paling bertahan dua minggu, setelah itu, selalu bikin alasan sakit atau jawaban sekenanya.

Ishak Sang Motivator
Di rumah yang baru, ada beberapa orang datang ke rumahnya. Salah satunya adalah Ishak, pemuda Kristen yang kerap mabuk. "Kamu harus bisa main gitar, ntar saya pinjemin dari gereja. Saya ajarin kamu sebentar, trus kamu latihan sendiri. Dua minggu kamu harus bisa mainkan satu lagu. Kamu harus rajin. Jangan cepat putus asa kayak saya. Kamu harus punya masa depan," kata Jhon tertawa menirukan nasihat Ishak. Menurut Jhon, kata-kata Ishak itu kena di hatinya. Ia lantas belajar gitar dengan sungguh-sungguh.

Suatu kali, Jhon berkenalan dengan Amir, teman kakaknya, seorang arsitek yang mengerjakan taman di halaman rumahnya. Jhonlah yang paling banyak menemani Amir lantaran paling sering di rumah. Betapa kagetnya Amir ketika tiba-tiba Jhon nyanyi lagu Gombloh sambil memetik gitar. "Pak Amir langsung nanya, mau bantu saya main musik di gereja? Karena saya merasa sangat dekat dengan dia saya nggak enak nolak. Pak Amir sungguh-sungguh melayani dan mendorong saya. Biarpun hujan, Pak Amir tetap menjemput saya dengan sepeda motornya. Padahal jarak rumah kami cukup jauh. Dalam hati saya, nekat juga orang ini."

Perubahan Sikap
Suatu malam, di rumah teman, Jhon merenungi hidup. Rasa gagal, tertolak, tidak berguna yang selama ini menekannya, satu per satu terbayang di benaknya. Masa kecil yang kelam penuh kepahitan, perkataan ibunya, saudara serta kata-kata dokter yang pernah ia dengar dari mulut mamanya betul-betul menyesakkan. Malam itu menjadi malam yang amat berarti bagi Jhon. Ia tumpahkan segala kekesalan dan gelisahnya pada Tuhan. Jhon berserah penuh pada Tuhan. Ia bertekad mengubah cara pandangnya dalam melihat kehidupan. Pelan-pelan, Jhon bisa menerima kekurangannya. Dia juga berdamai dengan diri sendiri dan mengampuni orang-orang yang pernah melukainya. Malam itu, Jhon "berhadapan dengan Tuhan".

"Saya seperti menemukan sosok Bapak," kata Jhon yang sejak lahir sampai ia dengar ayahnya meninggal, belum pernah sekalipun bertemu.

Sukacita dan harapan pelan-pelan memenuhi hati Jhon. Bagi Jhon malam itu adalah malam pengampunan. Sebab pada malam itu, ia bisa mengampuni setiap orang yang pernah melukainya. Itulah yang memotivasi Jhon untuk bangkit dan tidak larut dalam masalah. Benarlah, hati yang gembira adalah obat. Jhon makin giat melayani Tuhan. Lewat nyanyian dan petikan gitarnya, ia semakin maju dan menang mengalahkan segala rasa yang tak perlu disimpannya.

Usia 20 tahun, Jhon memberanikan diri minta izin pada ibunya untuk dibaptis. Ibunya tak keberatan asal Jhon menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. "Meski Mama bukan seorang Kristen, tapi ia sungguh-sungguh mendorong saya untuk melayani Tuhan. Pernah suatu kali, saya jenuh dan berniat bolos tidak ke gereja, Mama saya ribut. 'Lho, katanya kamu mau jadi Kristen kok malas-malasan. ' Ketika saya pulang pelayanan, Mama menunggu saya dan selalu bertanya, sudah makan belum?"

Tuhan juga memberi kesempatan Jhon melayani ibunya saat wanita yang melahirkannya itu jatuh sakit dan harus opname. Selama satu minggu, Jhon menemani ibunya, "Sewaktu Mama anfal, ia berteriak, 'Yesus tolong saya!' Tak lama kemudian, Mama dipanggil Tuhan. Rasanya waktu bersama Mama belum cukup. Mama meninggal saat kami sangat dekat. Tapi hati saya sangat bahagia, Mama sudah mengakui Yesus."

Bertemu Tulang Rusuk
Jhon semakin terpacu bercerita tentang Yesus. Jadwal pelayanan padat. Awal Juni tahun 2000, Jhon bersama beberapa teman pelayanan ke Kalimantan Barat. Di sana , Jhon didampingi Pdt. Kenny Wolter. Marianalah yang mengurus dan banyak mendampingi Jhon. Teman-teman Jhon maupun Mariana kerap menggoda, "Wah, kayaknya kalian cocok banget," kata Jhon tersenyum menirukan godaan mereka.

Sehari menjelang kembali ke Jakarta , Jhon "didesak" teman-temannya untuk "mengungkapkan cinta". Semula Jhon ragu, sadar atas keterbatasan yang dimilikinya. Namun akhirnya, muncul keberanian itu. Jhon mengajak bicara Mariana. Memang tak ada yang dapat membandingi kuasa Tuhan. Mariana, meski kaget bukan kepalang, akhirnya menerima cinta Jhon.

Malam itu pula mereka sepakat untuk segera menikah. Hal ini disampaikan kepada Pdt. Kenny, yang kaget mendengarnya. "Pendeta bilang, uji dulu. Kami pun dipisahkan di tempat yang berbeda. Setelah selesai, kami dipanggil Pdt. Kenny. Apakah jawaban kami sama? Ternyata saya dan Mariana punya jawaban sama, mantap untuk menikah."

Pernikahan yang mengharukan itu pun dilaksanakan. "Saya pulang ke Jakarta bawa istri, mukjizat ya?" kata Jhon tertawa, Mariana yang mendampingi pun tersenyum.

Mariana mengaku kagum atas karya Tuhan dalam hidup suaminya. "Meskipun Kak Jhon begitu, dia loh yang atur keuangan keluarga. Dia pinter banget ngurus duit. Saya juga heran, dia bisa main gitar, keyboard, drum, suaranya juga bagus," ungkap Mariana, gantian Jhon tersenyum mendengar pujian istrinya.

Tak lama menunggu, Mariana hamil. Pada 13 April 2002, lahirlah Ester Agung Natanael; buah cinta kisah keajaiban. Jhon tak lagi merasa sepi dan sendiri. Mariana dan Ester dengan cinta. Luka itu telah digantikan-Nya dengan sukacita.

Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Karena Dia
Judul artikel: Saya Terselamatkan Walaupun Lahir Tanpa Bola Mata
Penyusun : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2006
Halaman : 71 -- 80

~ Halaman ke-2 ~

KASIH YANG SEBENARNYA
Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar. Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan.

Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya.Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan diatasnya tertulis "Untuk Anakku Tersayang". Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Disamping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

Ya Tuhan,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini. Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku Kumohon Ya Tuhan, Jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali lagi kumohon Ya Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu

Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut.Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayah memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita ........

~ Halaman ke-3 ~

POHON INJIL
Suatu ketika adalah sebatang pohon Natal yang bersinar terang tinggi menjulang; menarik mata memandang. Kecemerlangannya sungguh memikat dan menggembirakan hati siapa saja yang lewat.

"Terangnya begitu cemerlang," begitu kata mereka dan mereka enggan beranjak pergi.

Sang pohon Natal berdiri tegak, bangga bermandikan cahaya oleh sebab setiap lampu menyala begitu gemilang.

Kemudian, terdengarlah sebuah bola lampu berkata, "Aku capai menyala siang dan malam, sebaiknyalah aku padam dan beristirahat; terlalu capai aku selalu mengusahakan yang terbaik. Lagipula, aku begitu kecil; aku tidak yakin kehadiranku cukup berarti."

Sekonyong-konyong, seorang anak dengan lembut menyentuhnya, "Lihat, mama, yang ini bersinar sangat terang. Aku telah melihat semua lampu di atas pohon terang, yang ini tampak paling cemerlang bagiku."

"Ya, Tuhan!" seru si bola lampu. "Hampir saja aku redup dan padam. Aku pikir tak seorang pun peduli jika aku padam dan tak bersinar terang."

Seiring dengan itu, suatu terang yang cemerlang kembali bersinar. Terang-terang yang lain pun merasakan kehadirannya pula.

Injil kita, bagaikan pohon Natal ini, dengan bola-bola lampu kecil yang adalah kamu dan aku. Masing-masing kita mempunyai bagian yang harus diisi dengan cinta, pengetahuan dan kehendak baik.

Mari menjadikan pohon kita bermandikan cahaya, dengan kesaksian-kesaksian yang gemilang.

Oleh sebab Injil kita adalah pohon kehidupan yang menerangi jalan menuju keabadian.

14] Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
16] Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Baca : Yohanes 5:13-16

~ Halaman ke-4 ~

EDISI 11 Tahun 2008

PEMULIHAN DAN PEMBAHARUAN
Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. {Gal. 6:9}

Seorang penjual mobil bekas mempromosikan sebuah buah mobil padaku, "Yang ini bagus, baru saja dicat. Seperti mobil baru, bukan?" Benar, mobil itu tampak berkilau tetapi pasti ada beberapa hal yang lebih penting dari sekadar polesan cat. Mobil itu memiliki beberapa kerusakan paling tidak karat, yang tidak seluruhnya dapat ditutupi oleh lapisan cat. Cat baru memang menutupi beberapa cacat, sekaligus bisa mengecoh pembeli.

Seperti mereka yang mengecat mobil bekas, aku juga kadang-kadang mencoba menutupi kekurangan. Lari dari kondisi sulit, menyangkal adanya masalah, dan membuat alasan-alasan adalah beberapa cara yang biasanya aku lakukan untuk menghindari masalah.

Seperti mobil bekas, kehidupan kita pun membutuhkan pemulihan. Dosa perlu dihapuskan, kesalahan diampuni, keputusasaan digantikan dengan pengharapan, dan kesedihan diubah menjadi kesukacitaan. Bagaimana kita dapat dipulihkan? Melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitanNya, Yesus sudah mulai memulihkan kita, dan la akan terus bekerja sampai kita mengalami pemulihan dan pembaruan secara sempurna! (Judith R. Junk - Indiana)

~ Lembar ke-1

MENGERJAKAN KESELAMATAN
Oleh : Ev. Yakub Tri Handoko, M.Th.
Nats : Filipi 2:12-13

Ketaatan dalam sebuah keluarga merupakan sesuatu yang penting. Permasalahannya, tidak semua orang memiliki konsep ketaatan yang benar. Dalam kotbah kali ini kita akan mempelajari ketaatan seperti apa yang dituntut oleh Allah? Teks yang akan menjadi dasar kotbah adalah Filipi 2:12-13.

Kerjakan keselamatanmu (ayat 12)
Jika kita melihat ayat 12-13 secara sekilas pun kita dengan mudah akan menemukan bahwa inti dari bagian ini terletak pada kalimat perintah di ayat 12, yaitu kerjakanlah keselamatanmu. Bagian lain dari ayat 12-13 hanya menjelaskan inti tersebut. Apa yang dimaksud dengan perintah ini? Apakah perintah ini tidak bertentangan dengan ajaran Paulus yang lain tentang keselamatan adalah anugerah (Rom 3:28; Ef 2:8-9)?

Penyelidikan yang lebih teliti menunjukkan bahwa nasehat ini tidak bertentangan dengan doktrin anugerah. Pertama, kata kerja katergazomai (“kerjakanlah”) sebenarnya lebih bermakna “menyelesaikan” (Ef. 6:13), bukan menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Ayat ini berarti “work out your salvation” (mayoritas versi Inggris), bukan “work for your salvation”.

Kedua, kata “mu” dalam frase “keselamatanmu” dalam bahasa Yunani berbentuk jamak.Pemakaian bentuk jamak ini menunjukkan bahwa Paulus tidak sedang membicarakan keselamatan pribadi-pribadi. Ia sedang membahas keselamatan secara komunal. Ia sebenarnya menasehatkan jemaat di Filipi sebagai sebuah komunitas untuk menunjukkan pola hidup tertentu yang membuktikan bahwa mereka memang sudah diselamatkan.

Dalam konteks pasal 2, hal ini berhubungan dengan kasih sesama orang percaya (2:1-4,14-15; 4:2). Nasehat yang hampir serupa dengan ayat ini terdapat di Filipi 1:27 “hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus”. Dengan menunjukkan diri sebagai komunitas yang punya gaya hidup sesuai Injil, jemaat Filipi akan mampu menjadi teladan bagi orang-orang luar yang memusuhi mereka (1:27-28; 2:15).

Dari pembahasan di atas terlihat bahwa nasehat untuk mengerjakan keselamatan sebenarnya sama dengan nasehat untuk hidup sesuai dengan status yang sudah diselamatkan. Dalam istilah yang lebih sederhana, mengerjakan keselamatan sebenarnya sama dengan hidup sesuai firman Tuhan (ketaatan). Hal ini juga terlihat dari kalimat di ayat 12 “kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu”.

Bentuk ketaatan (pengerjaan keselamatan), ayat 12
Dalam bagian ini kita akan melihat 3 macam ketaatan yang dituntut Allah dari kita.

1. Harus konsisten.
Di awal ayat 12 Paulus mengatakan “kamu senantiasa taat, karena itu...”. Hal ini jelas merujuk pada konsistensi ketaatan yang sudah ditunjukkan jemaat Filipi mulai dari awal pelayanan Paulus di sana (Kisah Rasul 16) sampai waktu Paulus menulis surat. Ketika ia mulai memberitakan Injil di Filipi, beberapa orang langsung menerima firman itu (Kis 16:14, 32-33). Ketika ia berada di tempat lain, jemaat Filipi tetap mendukung pemberitaan Injil (Flp 4:10, 15-16). Mereka tetap bertahan dengan penganiayaan yang terus-menerus mereka alami (Flp 1:28-30). Ketika Paulus menulis surat ini pun jemaat Filipi telah memberikan bantuan untuk pekerjaan misi (Flp 2:25). Paulus tidak puas hanya pada ketaatan mereka dari dulu sampai sekarang. Ia ingin agar mereka terus mengerjakan keselamatan mereka (taat).

2. Tidak dibatasi situasi apapun.
Paulus menambahkan bahwa ketaatan jemaat Filipi harus dilakukan “bukan hanya waktu aku hadir, tetapi terlebih waktu aku tidak hadir”. Dalam sebagian versi Inggris, frase ini dihubungkan dengan “kamu senantiasa taat”, bukan “kerjakan keselamatanmu”. Dari sisi tata bahasa dan konteks surat Filipi, frase tersebut sebaiknya dihubungkan dengan “kerjakan keselamatanmu” (LAI:TB). Pertama, kata Yunani me (“bukan”) seringkali dipakai untuk menerangkan kalimat perintah. Dalam ayat ini “kerjakan keselamatanmu” berbentuk kalimat perintah (imperatif), sedangkan “kamu senantiasa taat” merupakan kalimat pernyataan (indikatif). Kedua, ide tentang kedatangan Paulus dalam surat Filipi bukan merujuk pada kedatangannya yang dulu (Kis 16). Kedatangan ini bersifat futuris, seandainya Paulus berhasil bebas dari penjara (1:26 dan 2:23-24). Ia belum tahu apakah ia akan bebas atau dihukum mati (1:20-26), karena itu berpesan pada jemaat Filipi untuk tetap mengerjakan keselamatan (taat) baik ia ada atau tidak ada. Tambahan ini perlu ditegaskan Paulus, karena jemaat Filipi sangat dekat dan mengasihi dia. Mereka bisa terjebak pada ketaatan yang semu, yaitu taat hanya karena faktor Paulus (hamba Tuhan) saja. Ketaatan seperti ini jelas tidak tepat. Hamba Tuhan memang harus menjadi teladan bagi jemaat (1Kor 11:1; 1Tim 4:12), tetapi jemaat harus berfokus pada Tuhan (Mat 11:29). Intinya, ketaatan kita tidak boleh dipengaruhi oleh situasi tertentu.

3. Didasari hormat pada Allah.
Paulus menasehatkan agar jemaat Filipi tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Sekilas konsep ini terkesan aneh, karena dasar ketaatan seharusnya adalah kasih (Mat 22:37-40), bukan ketakutan. Kesan ini akan hilang apabila kita ingat bahwa Allah memang seringkali menghukum umat-Nya agar mereka takut dan taat kepada-Nya.Takut di sini dimaksudkan agar mereka lebih hormat pada kekudusan Allah. Dalam tulisan

Paulus, ungkapan “dengan takut dan gentar” muncul beberapa kali dengan makna “hormat”, tanpa selalu melibatkan unsur hukuman. 2Korintus 7:15 mencatat bahwa Titus diterima jemaat Korintus dengan takut dan gentar. Maksudnya, ia diterima dengan penuh hormat, karena ia mewakili Paulus. Dalam Efesus 6:5 Paulus menasehati para budak agar taat kepada tuan mereka dengan takut dan gentar. Tidak ada ketakutan karena hukuman yang diindikasikan di Efesus 6:5-8. Takut dan gentar berarti dengan sikap hormat. Begitu pula ketaatan kita kepada Allah harus didasarkan pada rasa hormat terhadap kekudusan Allah. Kita taat bukan karena sungkan terhadap orang lain, tuntutan sosial, takut kalauberdosa nanti ketahuan, dan sebagainya. Kita taat karena kita menghormati kekudusan

Allah.
Kekuatan untuk taat (pengerjaan keselamatan), ayat 13
Jenis ketaatan yang dituntut di ayat 12 tampaknya sangat sulit untuk dilakukan, karena itu Paulus menjelaskan rahasia kita bisa melakukan itu (band. kata sambung “karena” di awal ayat 13). Rahasianya terletak pada diri Allah. Allah yang mengerjakan kekuatan dari dalam diri kita (energew). Kata energew muncul 20 kali dalam PB, 18 di antaranya dipakai oleh Paulus. Arti yang terkandung di dalam kata ini adalah “bekerja dengan penuh kekuatan” (Gal 2:8; 3:5; 5:6; Ef 2:2).

Allah memampukan kita untuk mau (qelo) dan mampu (energew) menaati Dia. Natur kita yang tercemar oleh dosa cenderung tidak bisa konsisten dalam menaati Allah. Kita seringkali taat dalam situasi-situasi tertentu saja. Kita juga tidak jarang menaati Allah tapi dengan motivasi/dasar yang salah. Melalui intervensi Allah dalam diri kita, kita diberi kemauan dan kemampuan. Tugas kita adalah berserah pada pimpinan Allah.

Aplikasi
Dalam kehidupan keluarga, kita seringkali berada dalam situasi yang sulit untuk menaati Allah. Kita diperhadapkan pada dua pilihan: taat pada Allah tapi mengalami kesulitan dalam bisnis atau tidak taat tapi bisnis lancar. Apakah kita mau mengambil komitmen untuk menaati Allah bagaimanapun sulitnya itu? Kita juga tidak jarang diperhadapkan antara waktu bagi Tuhan dan bagi pekerjaan. Apakah kita mau mengutamakan Tuhan di
atas segala-galanya? Kita kadangkala harus memilih: mengikuti kata hati kita untuk bercerai atau kehendak Allah untuk tetap bersama pasangan kita. Apakah kita mau memilih Allah walaupun itu sulit? Allah akan bekerja dengan kuat dalam diri kita sehingga kita bisa untuk mau dan mampu menaati Dia.

~ Lembar ke-2 ~

ALEXIA
Pagi itu sepulang dari mengikuti Ekaristi Minggu Palma di Gereja Keluarga Kudus Banteng, aku memanggil ALEXIA, salah satu anak asuh kami yang tinggal serumah denganku.

"Lex … tolong kamu ke sini sebentar, Sr mau tunjukkan sesuatu ke kamu."

Alexia bergegas menuju ke kamarku. Aku mulai membuka laptopku dan kubuka folder tentang FARA, anak umur 3 tahun yang menderita gizi buruk dan sudah hampir 6 bulan dirawat di rumah sakit dr. Sardjito Yogyakarta. Alexia memperhatikan slide yang kupertontonkan padanya. Aku melihat anak itu sering mengerutkan dahinya, menyipitkan matanya … kurasa ada sesuatu yang berkecamuk di dalam hatinya dan benar saja …"Tuhan … kasihan dia," itu kata-kata yang sering aku dengar terlontar dari mulutnya.

"Kasihan ya Suster. Padahal masih sangat kecil sudah menderita seperti itu. Kapan kita menenggoknya Sr?" katanya sambil menahan diri untuk tidak menangis karena memang aku melihat ada genangan air di kedua kelopak matanya.4

" Siang ini kita tengok ya. " jawabku.

Lalu Alexia bergegas keluar dari kamarku dan aku melanjutkan ketikanku yang belum selesai. Tidak ada sepuluh menit sejak keluar dari kamarku, Alexia kembali masuk kekamarku. Kulihat ada uang di genggaman tangannya.

"Sr … saya mau bicara," katanya.

Aku melihat ke arahnya dan kuhentikan ketikanku. "Kamu mau bicara apa? Bicaralah." kataku padanya.

"Sebelumnya saya minta maaf Sr kalau apa yang akan saya katakan nanti membuat Sr marah," katanya sambil menatapku. Aku menganggukkan kepalaku dan memberinya isyarat agar dia bicara.

"Begini Sr. Saya mau minta ijin, boleh tidak atas nama anak-anak, saya memberi sumbangan untuk Fara? Tapi uangnya saya tidak akan minta Sr , saya akan ambil dari uang hasil jualan. Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa Sr."

Aku kaget ... bukan karena marah, tapi aku tidak percaya bahwa anak ini akan mengatakan demikian. Aku menatapnya dan berkata, "Sr tidak marah. Kamu boleh menggunakan uang itu. Sr malah senang."

Aku melihatnya tersenyum padaku dan kegembiraan itu kulihat jelas di wajahnya,

"Terima kasih Sr."

Aku membalas senyumannya.

"Kamu mau beri berapa?" tanyaku. Aku bertanya demikian bukan karena aku ingin tahu berapa nominal yang akan dia berikan tetapi aku ingin tahu sejauh mana ketulusan dia.

" Uang hasil jualan ada Rp 600.000 Sr. Saya akan ambil Rp 500.000 untuk Fara sedangkan yang Rp 100.000 untuk beli bahan buat jualan besok Minggu. Boleh tidak Sr?" Dia menatapku seolah ingin minta persetujuanku.

Jawaban Alexia membuat aku tertegun, sungguh saat itu sepertinya ada kesejukan masuk ke hatiku mendengar apa yang baru saja Alexia katakan .... Rp 500.000 dari Rp. 600.000 ... luar biasa.

Aku tersenyum bangga padanya dan aku berkata, “Sr ijinkan. Sr senang mendengar ini semua."

Dia lantas keluar dari kamarku dan kulihat dia mengambil amplop di ruang kerja milik Sr Vero dan selanjutnya kulihat dia sibuk menulis sesuatu pada secarik kertas. Aku memperhatikan Alexia dengan seksama. Sungguh aku merasa senang, aku bahagia.

Kebahagiaan itu makin terasa saat kami pulang dari rumah sakit dr. Sardjito. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, aku bertanya padanya, "Lex … kalau boleh Sr tahu, apa yang membuat kamu mengambil keputusan untuk memberikan sumbangan kepada FARA?"

Dia menjawab, " Bukankah Sr yang selalu mengajarkannya kepada kami? Sr menga takan bila suatu saat nanti kami merasakan betapa kami dicintai dan dikasihi, kami juga harus bisa membagikan kasih itu kepada sesama kami. Kata Sr kasih itu harus dibagi dan jangan sampai berhenti."

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Lalu aku melanjutkan pertanyaanku, "Mengapa kamu memberikan Rp 500.000 dari Rp 600.000 yang kalian miliki? Kenapa tidak Rp 100.000 yang kamu sumbangkan?"

"Sr pernah mengatakan kepada kami, berkat Tuhan itu seperti kita bertamu di rumah orang dan kita diberi segelas air oleh Tuan rumah. Saat kita meminum air itu pasti Tuan rumah akan menambahkan lagi air di gelas kita, tapi bila kita tidak minum Tuan rumah tidak dapat menambahkan air karena kalau ditambahkan air akan meluber ke mana-mana dan terbuang percuma. Saya selalu ingat kata-kata Sr tersebut. Tuhan akan selalu memberikan kepada kita kasihNya, berkatNya bila kita juga dengan tulus dan ikhlas mau membagikannya kepada sesama kita. Kata Sr kalau kita pelit maka Tuhan juga akan pelit,tapi kalau kita tulus maka Tuhanpun akan terus menambahkan."

Aku bahagia mendengar jawaban yang diberikan oleh Alexia kepadaku. Aku sangat bersyukur dengan jawaban itu, jawaban yang dapat dia katakan setelah dia mengalami bagaimana dia dikasihi dan dicintai.

Dari peristiwa Alexia ini, aku mendapat pelajaran-pelajaran yang sangat berharga bagi hidupku.

Pertama,
Alexia mengajarkan bagaimana dia mengasah kepekaan dirinya. Kepekaan itu dia wujud-nyatakan dalam sikap yang konkrit. Dia tidak hanya berhenti dengan kata "kasihan" namun dia sungguh memiliki "belas kasih". Dari keputusan dia untuk membantu keluarga FARA, dia mengajarkan kepadaku bagaimana bisa membedakan antara kasihan dan belas kasih. Kasihan tanpa kita sadari merupakan bentuk kesombongan kita, menganggap kita lebih beruntung daripada orang lain. Sedangkan belas kasih adalah saat kita memiliki empati untuk orang lain, empati yang akhirnya menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu. Empati yang akhirnya menyadarkan kita bahwa penderitaan salah satu. Saudaraku adalah menjadi bagian dari penderitaanku juga.

Kedua,
Rp 500.000 dari Rp 600.000 yang dia miliki diberikannya. Alexia bukan orang yang berkelebihan harta. Sikapnya menunjukkan suatu totalitas dalam berbagi : memberikan bukan dari kelebihannya melainkan dari kekurangannya.

Dari sikap ini Alexia dapat memaknai apa arti ketulusan dan keikhlasan. Untuk dapat berbagi kasih kepada sesamanya, dia tidak perlu menunggu sampai dia kaya lebih dulu, namun keputusan dia untuk memberikan semua yang dia miliki menunjukkan kebesaran hatinya.

Dari sini kita diajak untuk semakin menyadari bahwa untuk dapat berbagi kasih dan cinta kepada sesama , tidak harus menunggu sampai kita kaya. Hal ini mengingatkan kita akan janda miskin yang memberikan seluruh hartanya di bait Allah … inilah makna dari totalitas pemberian diri.

Ketiga,
Kata Sr mengajarkan … yang dikatakan oleh Alexia menyadarkan aku bahwa Alexia sungguh dapat memaknai pengalaman dicintai dan akhirnya memampukan dia untuk mengejawantahkannya dalam hidup. Saat dia mengalami pengalaman dikasihi , dicintai dan dia juga melihat dalam kehidupan kesehariannya dari orang-orang yang ada di sekitarnya, telah membuktikan bahwa dia adalah sosok yang selalu mau belajar : belajar dari lingkungannya, belajar dari orang-orang yang di sekitarnya, belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya dan juga pengalaman-pengalaman hidup orang lain.

Ada banyak orang yang diberi kesempatan untuk belajar, namun hanya segelintir orang yang sungguh mau mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dan Alexia salah satu di antaranya. Belajar dari pengalaman inilah yang membuat seseorang berkembang dalam hidupnya.

Keempat,
Usianya 19 tahun. Usia yang masih sangat muda, usia kaum muda yang sedang giat-giatnya mencari identitas diri, jati dirinya dan Alexia menunjukkan bagaimana dia mampu untuk dengan sabar dan telaten terus menggali identitas dirinya, identitas yang terus dia asah untuk semakin menjadi pribadi yang bertumbuh dan berkembang dalam cinta.

Bukankah kita ada dari sebuah cinta, kita hidup untuk cinta dan kita berkembangpun karena cinta? Ya ... misi kita sebagai seorang kristiani adalah cinta maka bagaimana diharapkan kita semakin berkembang dan bertumbuh dalam cinta. Usia yang sangat muda tidak menghalangi seseorang untuk bertumbuh dan berkembang dalam cinta. Umur tidak menentukan kedewasaan seseorang, namun sikap mau belajar , senantiasa terbuka akan segala sesuatu yang baik dalam hidup, menerima dan senantiasa melihat sesuatu dari kacamata yang positiflah yang akan dapat menunjukkan kedewasaan seseorang.

Pengalaman yang dibagikan oleh Alexia sungguh membuat aku bahagia. Kasih itu tidak berhenti , kasih terus dialirkan, kasih terus dibagikan. Alexia semakin menunjukkan akan arti sesungguhnya dari kasih :

K ..... ARENA

A ..... LLAH

S ..... UNGGUH

I ..... NGIN

H ..... IDUP

DI DALAM DIRIKU, DI DALAM DIRIMU, DI DALAM DIRI SEMUA ORANG

Ya ... ciri hidup adalah bergerak, bertumbuh, berkembang. Kita tahu bahwa ALLAH ADALAH KASIH. Allah sungguh ingin hidup di dalam diri makhluk ciptaanNya agar KASIHNYA tidak pernah berhenti dalam kehidupan dunia ini.

Gondang , 24 Maret 2008
Sr. Theresia ppyk Wiji Kartini

~ Lembar ke-3 ~

NIKOLAI KHAMARA
Nikolai Khamara ditahan karena merampok dan dipenjarakan selama sepuluh tahun.Khamara mengamati orang-orang Kristen dan heran, makhluk macam apakah mereka.Mereka manusia juga, namun mereka menunjukkan sukacita di saat mereka seharusnya bersedih dan mereka menaikkan pujian sekalipun menghadapi kesusahan. Saat mereka mendapat sepotong roti, mereka membagikannya dengan orang yang tidak memperolehnya. Wajah mereka tampak bersinar saat mereka berbicara kepada

"seseorang" yang tidak dapat dilihat oleh Khamara.

Suatu hari, dua orang Kristen duduk di sebelah Khamara dan menanyakan kisah hidupnya. Khamara menceritakan kisah sedihnya dan mengakhiri ceritanya dengan berkata, "Aku adalah orang yang terhilang."

Salah satu dari orang Kristen itu tersenyum dan bertanya kepada Khamara, "Jika seseorang kehilangan sebuah cincin emas, berapakah nilai cincin emas itu ketika hilang?"

"Pertanyaan yang bodoh sekali! Sebuah cincin emas ya sebuah cincin emas. Kamu kehilangan cincin emas, tapi orang lain akan mendapatkannya. "

"Jawaban yang bagus sekali," kata orang Kristen itu. "Sekarang katakan, berapakah nilai seseorang yang terhilang? Orang yang terhilang, seorang pencuri, pezinah, atau seorang pembunuh, memiliki nilai seorang manusia. Dia begitu bernilai sehingga Allahmeninggalkan surga dan mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan orang itu."

Orang Kristen itu berkata kepada perampok itu, "Kamu mungkin terhilang, tapi kasih Allah telah menemukanmu. Setelah mendengar itu, Khamara memberikan hidupnya kepada Kristus.

Bagaimana suatu nilai diukur? Biasanya berdasarkan investasi seseorang terhadap waktu, uang, atau emosi. Itulah, bagaimana seseorang memperlakukan harta benda, aktivitas, atau bahkan suatu hubungan akan menyingkapkan seberapa besar hal-hal tersebut dinilai oleh orang itu.

Pikirkanlah, sebagai contoh, betapa beda kita memperlakukan pakaian kerja yang lama dengan yang baru. Atau perbandingan antara perawatan terhadap gelas kertas dengan gelas kristal. Dan saat harta benda yang bernilai hilang atau seseorang terkasih sedang terluka, oh betapa banyak air mata yang keluar. Jadi, berapa nilai orang-orang berharga Anda?

Seperti yang diberitakan oleh orang Kristen itu kepada Khamara, sangat berharga sehingga Yesus meninggalkan surga dan mati di kayu salib bagi ciptaan yang terhilang dan memberontak. Tuhan sangat mengasihi mereka!

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8)

~ Lembar ke-4 ~

FAKTA MENARIK TENTANG UANG
Uang menduduki peringkat pertama alasan utama semua kasus perceraian di dunia.

Uang pun menduduki peringkat pertama sebagai penyebab utama stress dan penyakit jantung pada masyarakat perkotaan.

Sebuah pesta pernikahan standar di Amerika menghabiskan biaya tidak kurang dari US$ 20 ribu (Rp 195 juta).

Sebelum dibuat dalam bentuk kertas dan koin, barang-barang berikut digunakan sebagai alat pembayaran : kulit kerang, tanah liat, binatang hidup, dan gabah.

Uang kertas dibuat karena pasukan Amerika kesulitan membawa uang logam yang berat saat Perang Saudara (Civil War). Tahun 1861, kertas digunakan untuk pertama kali sebagai mata uang, dan hanya kertas yang ditandatangani 6 orang pekerja di Dinas Keuangan Amerika waktu itu yang dianggap sah sebagai alat pembayaran. Anda bisa bayangkan, berapa juta lembar yang harus mereka tanda-tangani kala itu (alat cetak stensil baru ditemukan tahun 1950-an).

Kartu kredit pertama dibuat tahun 1951. Perusahaan pertama yang mengeluarkannya :American Express.

Jika Anda menumpuk uang US$ 1 sebanyak 1 juta lembar, beratnya TEPAT 1 ton.

Di Jepang, ketika Anda mengambil uang di ATM, mesin itu akan menyetrika uang itu dan Anda akan selalu menerima uang dari mesin ATM dalam kondisi bersih, rapi, dan hangat.

~ Lembar ke-5 ~

PENJAHIT YANG JENIUS
Suatu ketika ada seorang pria pergi ke penjahit, dan memesan stelan jas yang murah.Ketika jas yang diinginkannya selesai, ia coba mengepas. Ternyata jas itu sama sekali tidak cocok dengan tubuhnya. Bagian belakangnya terlalu besar.Bagian lengan kanannya terlalu panjang. Satu bagian kaki nya terlalu pendek.Dan, tiga buah kancingnya terlepas entah kemana.

Pria itu sangat kecewa, dan protes pada sang penjahit."Oh, itu tidak masalah," kata sang penjahit. "Begini saja, coba kau bungkukkan bahumu. Tarik tangan kananmu agak ke dalam. Lalu cobalah berjalan terpincang-pincang untuk menutupi satu sisi celana yang terlalu pendek.Sedangkan, untuk menggantikan tiga kancing yang terlepas ini, masukkan saja jari-jarimu di lubang kancing itu. Maka, semuanya akan tampak beres!"

Pria itu lalu mencoba memaksakan tubuhnya agar pas dengan stelan jas yang dipesannya.Ia merasa ditipu oleh penjahit itu. Ia lalu meninggalkan penjahit itu. Dan, belum jauh ia berjalan, seorang asing menegurnya. "Hai, siapakah yang menjahitkan jas itu? Tampaknya cocok sekali denganmu," tanya orang asing itu. "Kebetulan sekali aku sedang bermaksud membeli stelan jas."

Pria itu terkejut, namun merasa senang juga ternyata ada yang menganggap jas itu cocok dengan dirinya. Ia lalu menunjuk toko penjahit yang tadi."Baiklah, terima kasih banyak," jawab orang asing itu.

Ia lalu terburu-buru bergegas menuju toko penjahit yang ditunjuk. "Penjahit itu pasti seorang penjahit yang jenius karena bisa menjahit jas yang pas sekali untuk seorang cacat macam kamu."

Smiley...! Bukankah banyak orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tak disukainya, namun hanya karena pujian mereka tetap saja melakukannya.

Padahal, mungkin saja orang lain bermaksud beda. Maka, jadilah diri kita sendiri, agar nyaman dengan diri kita sendiri

~ Lembar ke-6 ~

KATEDRAL SANG JANDA
Seorang raja membangun katedral, namun tidak menghendaki siapa pun memberikan sumbangan. Ia ingin dikenang sebagai pembangun tunggal katedral itu.

Begitulah. Katedral itu berdiri dengan sebuah plakat yang menyatakan bahwa sang raja adalah pembangunnya.

Namun, suatu malam sang raja bermimpi. Seorang malaikat menghapus plakat itu dan menuliskan nama seorang janda miskin untuk mengganti namanya. Mimpi itu terulang dua kali. Saat terbangun, raja segera memerintahkan agar janda itu dipanggil untuk memberikan penjelasan.

Dengan gemetar janda itu berkata, "Paduka, hamba sangat mengasihi Tuhan dan sangat ingin terlibat dalam pembangunan katedral ini. Namun, karena rakyat dilarang memberi bantuan apa pun, saya hanya menyediakan jerami untuk kuda yang mengangkut batu-batuan."

Kisah di atas menggambarkan motivasi orang dalam memberikan persembahan. Ada yang memberi demi unjuk kedermawanan, agar tidak disebut orang kaya yang kikir. Ada pula yang memberi supaya dapat mengontrol gereja dan hamba Tuhan. Orang-orang seperti itu, menurut Yesus, sudah menerima upahnya (ayat 2).

Si ibu janda mewakili orang yang memberi berdasarkan kasih, bahkan dengan pengorbanan. Kalau ia didakwa melanggar perintah raja, bukankah ia mesti menanggung hukuman? Meski tampak remeh dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, pemberiannya juga sangat menentukan keberhasilan pembangunan katedral tersebut.

Mari kita melihat kembali motivasi kita dalam memberi persembahan.Apakah kita bersikap seperti sang raja? Atau, seperti si janda miskin? (ARS)

PERSEMBAHAN KITA DITAKAR BUKAN BERDASAR JUMLAHNYA TETAPI BERDASAR KASIH DAN PENGORBANAN YANG MENYERTAINYA

Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matus 6:4) Baca : Matius 6:1-4

~ Lembar ke-7 ~

Selasa, 01 Juli 2008

EDISI 10 Tahun 2008

PROYEK ALLAH
Dan tidak ada suatu mahhluk pun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. * Ibr.4:13

Suamiku menjalankan mesin penggali yang besar. Sekarang ia sedang membantu peletakan fondasi sebuah sekolah baru.Aku senang melihatnya mengoperasikan mesin; pekerjaanitu bermanfaat dan bertujuan.

la tahu di mana harus mulai menggali, lalu pelan-pelan ia menggali dan mengangkat apa yang harus dibuang. Ia menggali dan menghilangkan yang tidak perlu sehingga galian itu bersi dan siap untuk tujuan yang ditentukan. Pada musim hujan, galian ini akan dipenuhi air dan biasanya digunakan untuk aliran air. Kadang-kadang ia menggali parit untuk pipa yang akan mengalirkan air atau membuang air kotor atau air akibat badai. Setiap penggalian mempunyai suatu tujuan.

Allah tahu persis apa yang perlu dibuang atau dibongkar untuk menggenapi tujuan ilahi dalam hidup kita. Allah tahu seberapa dalam harus menggali dan di mana harus menempatkan apa yang sudah dbuang. Allah mengangkat dan menyiapkan ayat2 Kitab Suci untuk dipakai sebagai dasar iman. Dan apa yang Allah taruh pada tempatnya adalah air hidup, pemahaman yang lebih dalam terhadap Kitab Suci, kebiasaan2 baru yang membuang dosa jauh-jauh dari hidup kita. Meskipun terkadang menyakitkan, penggalian Allah adalah demi kebaikan kita. (Susan Hammond - Florida)

~ Lembar ke-1 ~

KALAU MAU NAIK KELAS DALAM IMAN
Tantangan atau masalah di dalam kehidupan ini bisa saja merupakan masalah yang besar atau kecil atau malah datangnya secara bersamaan. Di saat itu Kita memerlukan sikap yang tepat untuk menghadapinya.

Kalau Kita ingin tahu apakah seseorang adalah 'orang besar', bukan saat orang itu dalam keadaan 'baik-baik' saja tapi justru ketika mereka dalam masa kesesakan / kesulitan.Orang-orang besar di dunia ini akan terlihat sikapnya ketika mereka menghadapi masalah dalam hidupnya. Mereka tidak semakin kendor tetapi justru semakin kuat.

Amsal 24:10.
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

Bagaimana respon dan tindakan yang menunjukkan kebesaran seorang pemimpin:
1. Ia memperlihatkan KETENANGAN bukannya KEGILAAN
Keluaran 14:13
Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap Dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikanNya Hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat Hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.
Banyak orang kehilangan akal sehatnya / kurang waras / Gila ketika menghadapi tantangan yang besar. Mereka mencari jalan pintas, pergi ke dukun / paranormal (padahal dukun tidak bisa menolong dirinya sendiri), bahkan sampai bunuh diri.

2. Ia memperlihatkan KEYAKINAN bukannya KETAKUTAN
Keluaran 14:13b-14
Sebab orang Mesir yang kamu lihat Hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, Dan kamu akan diam saja."
Orang besar mampu menunjukkan keyakinannya saat Ada masalah. Tantangan yang besar itu ibarat suara auman singa yang menciutkan nyali Kita. Tetapi saat Ada tantangan janganlah takut. Taruhlah iman keyakinan Kita kepada Tuhan. Ketakutan adalah ketiadaan keyakinan.
Artinya semakin seseorang yakin, maka ketakutan itu semakin hilang. Dan sebaliknya jika tidak lagi Ada keyakinan, maka makin sempurnalah ketakutan itu melingkupi seseorang. Seorang yang yakin bukan berarti tidak mengalami ketakutan. Tetapi mampu berjalan melewati ketakutan tersebut.
Mazmur 27:3
Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya

3. Ia memperlihatkan KEJELASAN bukannya KEBINGUNGAN
Keluaran 14:15
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepadaKu? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.
Ada sesuatu yang jelas : mereka harus tetap bergerak maju. Seringkali ketika Ada tantangan besar, Kita tergoda untuk tetap berhenti bahkan mundur. Tetapi pola Tuhan adalah tetap bergerak maju. Bagian Kita adalah tetap maju Dan bagian Tuhan adalah membuka jalan di depan Kita.
Mazmur 36:10
Sebab pada-Mu Ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.
Amsal 4:18
Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah Hari.

Jadi ketika Kita berhadapan dengan tantangan yang besar dalam hidup jangan berhenti tetapi maju karena Kita akan semakin mengerti sewaktu Kita melaluinya.

MENGAPA HANYA DEKAT ALLAH SAJA AKU TENANG
”Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Bc Maz 62:2-9)

Dalam menghadapi tekanan hidup, kita harus berbeda dengan orang dunia, kita harus tetap tenang karena kita mempunyai Allah yang penuh kuasa. Tetap tenang bukan berarti kita tidak punya masalah, akan tetapi karena kita selalu dekat dengan Allah yang sanggup mencurahkan berkat-berkatNya kepada kita. Mengapa hanya dekat Allah saja aku tenang?

1. Karena Allah tahu waktu yang tepat (Yesaya 60:22).
Jika kita senantiasa hidup dekat dengan Allah, kita akan tahu rencana-rencana Allah dalam hidup kita. Sehingga kita akan tetap tenang karena kita tahu pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat.

2. Karena Allah akan memberitahukan kita hal-hal yang belum terjadi dan yang akan terjadi (Amos 3:6-7).
Kalau kita dekat dengan Allah tidak akan ada yang menjadi rahasia. Ketika Allah akan menghukum Sodom dan Gomora, Allah memberitahukan terlebih dahulu kepada Abraham, yang hidup berkenan kepada Allah.

3. Karena Allah akan mengalahkan yang jahat bagi kita (Mazmur 91:7-11).
Sebagai manusia kita tidak akan luput dari keadaan yang bisa saja membahayakan keselamatan kita. Tetapi sebagai orang yang bergaul dekat dengan Allah, sesuai firmanNya, Allah akan menghalau semua itu dari kehidupan kita.

4. Karena Allah memberkati tanpa membedakan manusia (Mazmur 115:12-13).
Semua manusia sama dihadapan Allah. Yang paling penting dan paling utama bagi Allah adalah apakah kita takut akan Dia dan senantiasa mendekat dengan Dia.

~ Lembar ke-2 ~

IBADAH YANG SEJATI

Kitab Yakobus, yang ditulis oleh saudara Tuhan Yesus, penuh dengan nasehat2 praktis. Kitab ini memaparkan bagaimana seharusnya orang percaya menghayati kehidupan imannya. Yakobus seolah2 berkata, "Inilah kehidupan Kristen itu!"

Dalam pasal 1, ia menjelaskan tentang ibadah yang sejati. Ia memulainya dengan cara menyikapi pencobaan atau masalah (ay.2-4). Masalah dalam hidup kita sebenarnya bukan masalah. Masalah itu hanya menunjukkan adanya hal2 yang kurang, adanya perkara yang perlu ditambahkan, dalam hidup kita. Masalah akan meregangkan iman kita sehinggakita mencapai taraf kedewasaan yang lebih jauh.

Saat menghadapi masalah, yang kita perlukan adalah ketekunan. Perlu perubahan dan penyesuaian untuk dapat menanganinya. KIta perlu melatih diri untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Sayangnya, proses pendewasaan ini kerap terhenti. Kita tidak bertekun sehingga dikalahkan oleh masalah yang ada. Yakobus menunjukkan beberapa faktor yang dapat menghentikan ketekunan kita.

Kekurangan hikmat (ay. 5-8).
Hikmat berarti menempatkan diri kita secara benar terhadap suatu masalah. Artinya, perlu perubahan pikiran dalam memandang suatu masalah.

Mengandalkan uang (ay.9-11).
Uang bisa menyelesaikan segala perkara, begitu pendapat banyak orang. Uang mungkin bisa memberi kenyamanan sesaat, namun tak membuat masalah itu teratasi. Uang hanya menutupi masalah itu untuk sementara.

Menyalahkan Tuhan (ay.12-18).
Ketika masalah tak putus-putusnya mendera, kita mulai mengira Tuhan tidak peduli dan melupakan kita. Kita tidak yakin lagi bahwa Dia senantiasa baik dan memberikan yang terbaik bagi kita.

Amarah (ay.19-21).
Kalau sudah begitu, sumbu kesabaran kita pun memendek. Kita gampang "meledak".

Malas beribadah (ay.22-25).
Masalah seharusnya mendorong ktia untuk lebih bertekun belajar, menambah apa yang kurang dalam diri kita. Namun, kita justru cenderung menjadi malas. Enggan membaca firman, berdoa, bersekutu, atau terlibat dalam pelayanan. Kita menjadi suam-suam.

Tidak mengekang lidah (ay.26).
Alih-alih mengucapkan perkataan yang membangun, kita melontarkan perkataan yang pedas dan penuh kepahitan.

Tidak menjaga diri dari pencemaran dunia (ay.27).
Ini yang paling parah: kita kembali berkubang dalam pencemaran dosa dan dunia.

Jadi, hakekat dari ibadah kita adalah: Ketekunan. masalah dan pencobaan hanyalah ruang untuk berlatih. Dengan ketekunan, ktia akan menghasilkan buah yang matang.

~ Lembar ke-3 ~

BUDAYA BERIBADAH
Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.- Matius 15:1-20

Makan itu ada budayanya sendiri. Tiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Pergilah ke daratan Cina, Anda harus bersiap-siap menggunakan sumpit sebagai ganti sendok dan jangan kaget atau merasa aneh kalau mereka yang duduk semeja dengan Anda bersendawa dengan bebasnya. Budaya Latin juga berbeda, kalau Anda menghabiskan semua makanan di piring Anda tanpa sisa, itu sama saja memberitahukan kepada tuan rumah bahwa Anda masih lapar. Di Italia, para bangsawan selalu meletakkan pisau dan garpu bersilang setelah selesai makan. Budaya Yahudi berbeda lagi. Ada aturan mutlak yang harus mereka patuhi soal makan, yaitu membasuh tangan lebih dulu sebelum makan.

Suatu ketika murid-murid Yesus mengindahkan tata cara makan ala Yahudi ini. Akibatnya, Yesus ditegur habis-habisan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat hanya karena para murid tidak membasuh tangan lebih dulu sebelum makan. Jawaban Yesus sungguh bijak menanggapi pertanyaan Farisi, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.

Saya mau beritahu, tapi jangan kaget. Kita seringkali bertindak seperti para Farisi dan ahli taurat itu. Kekristenan tak lebih dari sekedar tata cara dan aturan, bukan kehidupan. Kening kita mengkerut dan tidak suka kalau tata cara beribadah yang dilakukan tidak seperti aturan baku dalam gereja kita. Kita lebih memusingkan soal bertepuk tangan atau tidak. Kita lebih memusingkan antara memakai musik lengkap ataukah hanya menggunakan organ tua. Bagi yang biasa beribadah dengan tenang akan marah kalau suasana ibadah meriah dan hiruk pikuk. Bagi yang biasa beribadah dengan meriah akan mengecam kalau ibadah itu tidak ada urapan, seandainya dilakukan dengan cara yang tenang.

Kekristenan lebih penting hanya dari sekedar tata cara atau budaya saja. Kekristenan bukan hanya sekedar ritual belaka, tapi sungguh merupakan kehidupan nyata. Jadi, bagaimanapun beraneka ragam budaya saat beribadah itu tak terlalu penting, tak perlu dipusingkan, apalagi dipeributkan. Tuhan kita adalah Tuhan diatas segala budaya. Jadi, apakah kita akan memegahkan diri kalau merasa bahwa tata cara ibadah kita lah yang paling berkenan di hadapan Tuhan? (Kwik)

~ Lembar ke-4 ~

GABRIELLA dan TROFI
Lampu menjadi redup sewaktu volume musik ditingkatkan. Tiga puluh orang anak dengan berbagai bentuk, tinggi badan dan umur sedang menyajikan pertunjukan sendra tari di ruang olahraga sekolah/auditorium. Semua orang tua, kakek-nenek, bibi dan paman di sana . Ratusan di antara mereka mengisi tempat duduk. Ini adalah penampilan pertama cucu perempuan muda saya, Gabriella, di muka umum.

Gabriella berumur dua tahun. Dia muncul di pertunjukan sebagai seekor kelinci berwarna merah jambu dalam cerita "Keripik Binatang di Sop Saya." Dia melakukan bagiannya dengan mengagumkan, sungguhpun telinga kelincinya sudah melorot ke wajahnya selama gerakan atletik yang dilakukannya dan melingkar di lehernya pada seutas karet elastik. Sesudah beberapa kali mencoba memasang kembali telinganya, dia membiarkannya menggantung seperti sebuah anting. Gerakannya ditutup oleh sebuah koor dari barisan anggota dunia hewan.

Dua jam lewat, dan pertunjukan ditutup. Tiga puluh orang anak dan remaja dijejerkan di panggung, yang berumur dua dan tiga tahun di muka dan yang enam belas tahun di belakang, dengan umur lain mengisi tempat di antaranya - untuk penilaian akhir dan pemberian trofi.

Kelinci merah jambu dengan telinga dipegang di tangan kiri melangkah keluar dari barisan, menyeberang ke panggung depan dan dengan diam-diam berdiri di depan meja presenter yang terdapat trofi-trofi. Tangan kanannya terulur ke atas ke arah trofi, tetapi masih tidak sampai sekitar dua inchi dari dasar meja tofi. Namun presenter nampak benar-benar tak sadar akan adanya kelinci merah jambu yang diam-diam berada tepat dibawah tatapannya.

Sewaktu dia membaca nama yang terdapat di trofi, seorang wanita muda menyeruak dari kelompoknya dan mengambil trofi melewati kepala kelinci merah jambu yang masih berdiri dengan tangan diulurkan, menunggu untuk menerima trofi pada giliran berikutnya.

Di sini dimulailah kejadian yang paling menakjubkan dari sebuah kelompok tari dinamis yang pernah saya saksikan, yang dilakukan oleh anak berumur dua tahun yang dalam diamnya - yang menyatukan ratusan orang di tempat itu selama sekitar sepuluh menit.

Getaran jiwa memacu tarikan nafas kelinci merah jambu saat masing-masing trofi melewati tangannya yang terulur. Dengan kesabaran yang teguh dan kepastian, dia menunggu.

Sepuluh nama dibacakan dan sepuluh trofi sudah dibagikan. Sungguhpun begitu dia tetap menunggu dengan tangan bertahan terulur tinggi.

Di sekitar bilangan trofi ke dua puluh, perjuangan seekor kelinci merah jambu mulai terbaca dari bahasa tubuhnya oleh hadirin yang sangat bersimpati. Mata kelinci melorot ke telinga karena tangannya dipakai untuk menahan tangan yang lainnya dan suatu saat wajahnya tertunduk.

Dalam diam saya berkata dalam hati... "Tidak, tidak, Tidak ada yang perlu dilakukan terhadap telingamu yang lepas. Kamu tidak gagal. Kamu pasti dapat trofi. Bertahanlah!"

Pengumuman presenter dilanjutkan, dan ekspresi wajah kelinci berubah menjadi jengkel. Kedua tangannya menutup bibirnya, bibir bawahnya mencibir, wajah kecilnya miring keatas sampai sudut yang paling ekstrim, tetapi tetap tak ada trofi.

'Seekor' kera berumur dua tahun dari kelompok tarian yang sama bergabung dengan kelinci di panggung sebelah kanan dan berbicara dengan berbisik. Mata kelinci dan kera memandang dari kotak trofi itu kepada presenter... berbisiknya menjadi lebih seru.

Hadirin menambahkan kata di pikiran mereka terhadap pemandangan yang ada di panggung.

Si kera berbisik keras, "Kamu bisa menjatuhkan dia (presenter) pada kakinya, dan aku bisa mengambil dua trofi, melompat ke depan panggung dan lari ke luar dari pintu belakang."

Sekarang, hadirin tertawa terbahak-bahak, beberapa mengentak lantai seolah-olah untuk memaksakan gelak tawa lebih cepat. Beberapa orang memegang perut untuk mencegah gelak tawa menyembur keluar dan mengusap air mata yang mengalir di pipi.

Sesudah mempertimbangkan rencana itu, kelinci merah jambu menggeleng-gelengkan kepala, "bukan" - dan rencana dibuang. Kera mundur kembali ke barisannya dan hadirin kembali tenang di tempat duduk mereka.

Dengan alasan yang tidak jelas, presenter terus mengabaikan kelinci merah jambu yang ada di depannya.

Dua puluh tiga trofi sudah dibagikan dan masih belum ada trofi untuk Gabriella.

Kelinci memperlihatkan tanda putus asa; matanya sayu, bibir bawahnya bergetar.

Lagi, ada gelombang dorongan diam dari hadirin yang melewati panggung, dan beberapa berbisik... "Jangan menyerah"... dan "giliranmu pasti datang."

Kelinci membuat keputusan.

Dia masih berdiri di depan lutut presenter. Mukanya menengadah dengan pengharapan dan secara perlahan tangannya terulur ke atas seperti yang telah dilakukannya dari menit pertama sampai ke dua puluh. Suara-suara hadirin gemuruh terdengar, seperti sebuah dengungan raksasa.

Akhirnya ... trofi kedua puluh sembilan adalah untuk Gabriella.

Saat diberikan ke tangan kelinci merah jambu, seluruh hadirin berdiri dan bersorak dengan suara yang sangat keras, sangat lama - sebuah sambutan yang paling emosional di malam itu. Sambutan untuk yang anak berumur dua tahun dengan baju kelinci yang memberikan pelajaran tentang kepercayaan, kebulatan tekad dan kesabaran.

Oleh Barbara E. Hoffman

[Catatan pengarang: Gabriella Maria Kramer adalah anak tengah dari anak lelaki saya Robert dan istrinya Maria. Sara, Gabriella dan Michael adalah anak keajaiban, yang dilahirkan sesudah delapan tahun percobaan yang gagal supaya bisa hamil. Kami menemui mereka sebagai hadiah dari Tuhan dengan ucapan terima kasih untuk
perawatan dan sayang yang diberikan oleh orang tua mereka kepada saudara perempuan adopsi mereka yang mereka tidak pernah tahu, guru dari pelajaran kasih sayang dan peringatan terus-menerus dari rencana Tuhan yang lebih luar biasa dibanding rencana kita. Saya mededikasikan cerita ini untuk mengenang Rachel Emily Kramer, seorang bayi HIV-positif yang ditinggalkan di rumah sakit pada usia tiga bulan dan dibawa ke dalam hati keluarga ini.]

~ Lembar ke-5 ~

SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH
Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya.

Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu? tanya sang professor.

Melakukan apa? tanya Ralph.

Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu? desak sang professor.

Oh, kata Ralph, selama perang saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal. Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. Katanya. Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [I Tesalonika 5:18]

~ Lembar ke-6 ~

MASIH ADA SETETES SETELAH TETES TERAKHIR
Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stan makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat. Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini.

Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang.Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. 'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton : "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung. Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan
untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku".

Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.

"Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut. (Bits & Pieces, The Economics Press)

~ Lembar ke-7 ~

INDAHNYA PERSATUAN
Karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Baca : Filipi 2:1-11)

Sekelompok kuda liar tengah merumput di padang belantara. Tiba-tiba muncul seekor harimau yang sedang mencari mangsa. Serentak kuda-kuda itu melindungi diri dengan cara berdiri saling berhadapan membentuk lingkaran. Harimau pun tidak berani mendekat, karena takut kena tendang. Namun dengan tipu muslihatnya ia berkata, "Sungguh barisan yang bagus. Boleh aku tahu kuda pintar mana yang mencetuskan ide ini?" Kuda-kuda itu pun termakan hasutan. Mereka berdebat siapa yang pertama mencetuskan ide tadi. Karena tak ada kata sepakat, akhirnya mereka tercerai-berai. Harimau pun dengan mudah memangsa mereka.

Persatuan sangat penting. Tanpa persatuan sebuah komunitas atau kelompok akan rapuh, maka persatuan harus diperjuangkan. Begitu juga dalam gereja. Paulus menasihati jemaat di Filipi supaya bersatu. Dasar persatuan kristiani adalah Kristus. Jadi setiap orang dalam jemaat hendaknya meneladani Kristus (ayat 5):

1. Walaupun dalam rupa Allah, tetapi tidak menganggap kesetaraan-Nya itu sebagai milik yang harus dipertahankan (ayat 6) -- Tidak sombong atau merasa paling hebat.

2. Telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba (ayat 7a) -Memiliki semangat memberi; bukan ha-nya mau menerima.

3. Menjadi sama dengan manusia (ayat 7b) -- Berempati terhadap sesama; tidak lekas menghakimi atau menuduh, tetapi berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain untuk mengerti dan memahami.

Saat jemaat sepakat untuk bersatu, iblis pun gentar! - AYA

SEPULUH LIDI YANG DIIKAT MENJADI SATU LEBIH KOKOH DIBANDING SERIBU LIDI YANG TERCERAI BERAI -- PEPATAH CINA

~ Lembar ke-8 ~